Podium.com

Sabtu, 04 Agustus 2018

Malu Bertanya Sesat Di Mana-mana; Sebuah Tanya Tentang Tanya

Agustus 04, 2018 0
Malu Bertanya Sesat Di Mana-mana; Sebuah Tanya Tentang Tanya

Sebelum Anda membaca tulisan ini, ada baiknya jika saya terlebih dahulu bertanya untuk apa Anda membaca tulisan saya ini?. Bukankah hal itu hanya membuang waktu santai Anda atau bisa jadi Anda merasa muak dengan tulisan ini. Saya tidak menjamin tulisan ini layak disebut tulisan. Lantas, mengapa sekarang Anda tak langsung mengabaikannya?

Pertanyaan saya di atas sebenarnya tak perlu Anda jawab karena sejatinya memang tidak untuk dijawab. Kalaupun Anda mau menjawabnya, silakan saja. Saya tidak memaksakan hal itu. Pertanyaan di atas sengaja saya lontarkan hanya untuk melatih diri saya agar terbiasa bertanya. Mengapa? nanti akan saya jelaskan.

Sejak lahir, sebenarnya manusia sudah dan akan selalu diliputi oleh banyak tanda tanya. Mulai dari perkara sederhana yang bisa dengan mudah dijawab hingga perkara kompleks dan menuntut banyak energi serta waktu untuk menjawabnya. Sebut saja tanya itu berupa mengapa ia dilahirkan dari seorang ibu yang (anggap saja) tergolong keluarga sederhana? Mengapa dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan?, mengapa harus menangis ketika seorang bayi keluar dari rahim ibunya?, mengapa tubuh manusia ada yang mengalami pertumbuhan atau bahkan tidak terjadi hal itu. Hingga pertanyaan yang sangat menentukan arah dan tujuan hidup manusia selanjutnya, seperti dari mana manusia berasal, untuk apa manusia dilahirkan, dan akan kemana manusia setelah fase kematian.

Sayangnya manusia tidaklah terlalu cerdas untuk bisa menjawab semua tanya itu bahkan ketika usia terus berlalu. Meskipun tentu saja juga ada yang bisa dijawab secara rasional dan memuaskan akal. Atau bisa jadi sebenarnya jawaban itu sudah tertera jelas namun lagi-lagi “keluguan” yang ada pada diri manusia membuat jawaban-jawaban itu serasa tak pernah ada. Berusaha mencari jawaban namun tak pernah menemukan. Atau parahnya memang sama sekali tak ada niat untuk mencari jawabnya.

Namun kali ini saya tidak terlalu membahas secara mendalam tentang esensi, filosofi, ataupun hal-hal lain seputar tanya. Tentu perlu waktu yang panjang serta tulisan yang bisa jadi berpuluh-puluh atau bahkan ratusan halaman untuk menuliskannya. Itupun belum bisa dikatakan sempurna. Membahas sebuah pertanyaan kadang-kadang justru berkahir dengan pertanyaan lain.

Ketika pertanyaan muncul dari seorang individu, setidak-tidaknya ada dua alasan. Pertama muncul karena murni ketidaktahuan, dan kedua karena kepentingan. Alasan kedua ini sebenarnya dapat dirincikan lagi seperti untuk menguji pengetahuan seseorang, menggoyahkan hati dan fikiran orang lain, mengajak berdebat, ingin mempermalukan salah satu pihak, iseng, menghabiskan waktu luang, dan lain-lain.

Adapun alasan karena ketidaktahuan sehingga muncul sebuah pertanyaan, adalah sesuatu yang wajar bahkan menjadi wajib dilakukan. Harus ditanyakan jika itu menyangkut hal-hal penting untuk diketahui dalam hidup manusia. Ketidaktahuan yang dipelihara selama bertahun-tahun tak ubahnya seperti melakukan investasi keburukan di masa mendatang.

Meski demikian, filter pada pertanyaan yang diajukan haruslah ada. Artinya tidak semua tanya harus ditanyakan. Bagaimanapun sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Ada pertanyaan yang harus kita cari sendiri jawabannya tanpa harus pertanyaan itu terlontarkan. Harus diingat pula bahwa ada pertimbangan lain saat mengajukan tanya seperti halnya situasi dan kondisi. Jika ada orang-orang sedang berusaha keras memadamkan kebakaran, namun tiba-tiba ada seseorang yang menanyakan bagaimana cara membuat kue bolu yang enak, apakah hal itu tepat dilakukan. Meskipun itu ditanyakan karena ketidaktahuan dan bagi penanya penting untuk mengetahuinya. Namun tetap saja salah karena “timing” yang tidak tepat.

Sebutan orang yang “kepo” misalnya. Muncul karena serangkaian pertanyaan yang itu ditujukan  secara “ekstrim” kepada orang lain dengan mengangkat tema yang harusnya bukan untuk dipublikasikan. Katakanlah mereka benar-benar bertanya karena tidak tahu dan kemudian ingin tahu, namun muncul pertanyaan; sepenting apakah mengetahui hal tersebut. Belum lagi jika berhadapan dengan orang yang tertutup, antisipatif, dan tidak suka dengan banyak tanya. Tidak menutup kemungkinan di situ akan terjadi konflik.

Belum lagi jika berbicara mengenai orang yang “sok” kritis. Orang semacam ini seringkali melemparkan pertanyaan yang tajam dan mendalam. Secara kasat mata, terlihat “elegan” karena bisa menunjukkan bahwa penanya adalah orang yang pemikir. Namun sangat disayangkan bahwa semua pertanyaan itu bisa saja sekadar lalu. Seperti pepatah, “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”. Itu terjadi karena memang tujuannya hanya untuk mendapatkan kepuasan ketika orang lain bungkam dengan pertanyaannya. Tipikal orang semacam ini seringkali membuat kesal orang lain dan menyia-nyiakan kesempatan.

Lalu bagaimana dengan orang yang bertanya, yang itu justru dapat melawan kebathilan. Katakanlah ada seseorang yang difitnah salah padahal ia benar, lalu kemudian ia menyodorkan pertanyaan pada orang-orang yang ia yakini berada di balik itu, dengan pertanyaan yang pada akhirnya dapat membungkam orang tersebut. Apakah itu salah? Menyikapinya tentu dengan mengembalikan pada konteks yang ada. Pertanyaan memang bisa dibuat untuk melakukan serangan balik kepada orang lain. Di sinilah tujuan memegang peran penting. Untuk apa hal itu dilakukan, apakah untuk kebaikan atau keburukan. Dari situlah dapat dinilai kebenarannya.

Posisi terpojokkan tidak selalu ada pada diri si penanya. Kadang kala, justru si penerima pertanyaan juga menunjukkan tindakan-tindakan yang kurang tepat. Lebih parah jika ada orang yang menawarkan agar orang lain bertanya, namun setelah pertanyaan terlontar justru dijawab dengan jawaban yang membuat penanya malah menjadi malu, takut, bahkan trauma.

Contoh mudahnya misal di dalam kelas perkuliahan. Seorang dosen membuka sesi tanya jawab kepada para mahasiswanya. Tak lama, salah seorang mahasiswa itu bertanya dengan niat mencari tahu. Terbayang jika ternyata jawaban dosen sama sekali tidak diduga dengan mengatakan, misalnya:
(a)    “Ini pertanyaan yang tidak berbobot sama sekali”
(b)   “Kamu ini mau bertanya atau apa?”
(c)     “Orang yang bertanya seperti ini pasti malas belajar”
(d)   “Pertanyaan ini menunjukkan bahwa ada masalah dalam pola fikirmu”
(e)    (dan masih banyak lagi jawaban serupa bahkan lebih parah)

Jawaban-jawaban yang muncul itu tentu saja sangat tidak diharapkan oleh si penanya. Apa jadinya jika bukan jawaban, melainkan rasa malu yang ditanggungnya.

Dalam hal inilah diperlukan kebijaksanaan dan kesadaran dalam menanggapi sebuah pertanyaan. Tentu saja dalam konteks pertanyaan tersebut diajukan dalam rangka mencari tahu, bukan sekadar iseng belaka apalagi pura-pura bodoh. Jika berada dalam konteks ini, maka kurang pantas rasanya jika dijawab dengan amarah, emosi, bahasa yang kasar, ataupun sampai menghina si penanya. Secara logika, memangnya siapa yang ingin memelihara ketidaktahuan. Apa salahnya memberikan jawaban yang proporsional. Toh, energi yang dikeluarkan akan sama saja. Setidaknya bisa menjaga perasaan si penanya.

Memang yang menjadi masalah selanjutnya adalah terjadinya bias antara orang yang bertanya karena ketidaktahuan kemudian sungguh-sungguh ingin mencari tahu, dengan orang yang bertanya untuk kepentingan, seperti yang disinggung sebelumnya. Salah dalam menilai, maka akan salah pula dalam memberikan respon. Padahal dua hal ini akan selalu ada. Bisa jadi kita juga pernah mengalaminya, baik sebagai penanya ataupun penjawab, baik sebagai penanya karena rasa ingin tahu ataupun sekadar kepentingan.

Lantas, apa yang sekarang bisa saya lakukan? Oh tidak, saya sebenarnya tidak paham dengan tulisan di atas, memang apa maksudnya?

Ah sudahlah, memang tidak akan pernah habis membahasnya. Seperti yang saya katakan di awal, membahas pertanyaan justru bisa berakhir dengan pertanyaan.

Semoga tetap semangat menjalani hidup!!!

sumber gambar : pixabay.com

Kamis, 24 Mei 2018

“Hug Me”; Ketika Umat Islam Mencari Pengakuan

Mei 24, 2018 2
“Hug Me”; Ketika Umat Islam Mencari Pengakuan

Menjelang memasuki bulan suci Ramadhan, masyarakat Indonesia kembali digoncang ketakutan ketika serangkaian aksi bom bunuh diri dilancarkan para teroris di beberapa gereja dan markas polisi di Surabaya. Rentetan kejadian terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat. Aksi ini pun memakan korban jiwa, baik yang berasal dari pihak kepolisian, masyarakat sipil, dan tentunya teroris itu sendiri.  
                                       
Tak hanya menjadi sorotan utama publik Indonesia, aksi ini bahkan telah menjadi perbincangan dunia, khususnya negara-negara yang punya sejarah kelam dengan terorisme. The Guardian yang merupakan media berpengaruh di Inggris bahkan menuliskan artikel yang berjudul “Surabaya Blast: family of five carried out bomb attack on Indonesia police station”. Selain The Guardian, beberapa media asing lainnya juga menyoroti seperti The Indhependent, BBC, dan The New York Times.

Seperti yang saya duga, ketika aksi bom terjadi di tempat ibadah dan pelakunya memakai pakaian yang sangat identik dengan Islam, maka mulai dari sini muncul serangan pada umat Islam dan ajarannya. Dilihat dari sejarah, hal semacam ini sebenarnya bukanlah pertama kalinya terjadi. Ketika dulu juga sedang marak terjadi pengobaman, baik di luar atau dalam negeri, semua bermuara pada hal yang sama; menyudutkan Islam. Sampai-sampai Islam dikatakan sebagai agama intoleran dan sumber terorisme. Naudzhubillah.

Jika dilihat dari media sosial saja, terbukti bahwa banyak yang kemudian menyangkutpautkan hal ini dengan orang-orang yang dituduh radikal yang ingin mendirikan negara Islam. Tuduhan ini tentunya tidak mendasar dan amat menyesatkan. Ketika mendirikan Daulah Islam di Madinah, Nabi Muhammad tidak pernah menggunakan cara-cara kekerasan apalagi sampai membunuh orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu, jika ada yang mengklaim bahwa aksi itu untuk mendirikan negara Islam, maka itu semua hanyalah kebohongan. Begitupun dengan mereka yang menuduh aksi itu untuk mendirikan negara Islam, adalah sebuah kekeliruan karena bukan begitu metode yang harusnya dilakukan. Dari semua itu yang lebih parah adalah bangkitnya virus Islamophobia yang kembali menjangkiti bangsa ini.

Perempuan bercadar atau orang-orang yang berpakaian Islami menjadi sasaran empuk para pengidap Islamophobia. Saya sudah membaca beberapa kasus yang saya dapat dari berbagai media. Ada wanita bercadar yang diusir dari angkot, menjadi korban salah tangkap karena sering ikut pengajian dan (lagi-lagi) bercadar, hingga yang sempat viral adalah video seorang santri yang diperiksa aparat kepolisian karena membawa tas dan kotak kardus.

Tak lama semenjak itu, masih dari media sosial, saya mengamati ada semacam tren, di mana orang-orang mencoba membuat sebuah ekperimen sosial yang saya sebut “Hug Me”. Aksi ini dilakukan oleh perempuan-perempuan bercadar yang berdiri di tengah keramaian sambil membawa sebuah papan bertuliskan “Jika Anda Merasa Aman, Peluk Saya.” atau tulisan serupa lainnya. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah orang-orang masih takut dengan perempuan bercadar atau tidak. Setahu saya, aksi ini dilakukan pertama kali oleh seorang laki-laki di luar negeri yang waktu itu memang sedang terjadi Islamophobia tingkat akut.

Saya cukup mengapresiasi dengan eksperimen sosial semacam ini. Setidaknya mereka berusaha melawan stigma yang terlanjur disebarkan ke otak masyarakat. Islamophobia memang tidak boleh menyebar karena ia serupa racun tak terlihat yang lambat laun membuat orang yang terkena akan mati dengan mengenaskan.

Akan tetapi ada satu hal yang amat mengiris hati, yakni ketika umat Islam seolah sedang berjuang memperbaiki citranya yang buruk di negara yang mayoritas muslim dan sering kali mengklaim sebagai negara yang beragama dan menjunjung tinggi agama. Sebuah pemandangan yang sungguh ironis dan tak habis fikir. Bagaimana mungkin dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar ini namun masih ada yang memasang stereotip negatif pada ajaran agamanya sendiri, seperti penggunaan cadar dan baju kurung yang itu merupakan bagian dari agama.

Entah akan sampai kapan terus terjadi. Kita tak tahu, apakah ketika misalnya nanti kembali terjadi aksi pengeboman serupa, dan lagi-lagi umat Islam harus berjuang untuk melawan semua tuduhan dan mencari pengakuan bahwa Islam bukan ajaran yang keras apalagi terkait dengan motif terorisme.

Dari fenomena semacam ini setidaknya dapat kita lihat bahwa masyarakat masih memisahkan antara perasaan, pemikiran, dan peraturan hidupnya. Masyarakat mungkin masih merasa bahwa ia berada dalam lingkup yang Islami karena ada banyak masjid ataupun besarnya pemeluk Islam. Akan tetapi kontras dengan pemikirannya yang justru mengarah pada selain Islam, termasuk peraturan hidupnya. Atau bisa jadi sebaliknya. Masyarakat merasa memiliki konsep berfikir Islami namun tidak dengan perasaannya.

Bisa kita amati misalnya para teroris merasa dirinya sangat dekat kepada Allah sehingga rela melakukan aksi bom bunuh diri yang mereka sebut sebagai jihad. Hanya saja mereka salah dalam segi pemikiran yang justru harusnya menjauhi aksi keji semacam itu karena tidak pernah diajarkan nabi. Sama halnya dengan orang-orang yang punya stigma negatif kepada perempuan bercadar. Mereka sebenarnya juga memiliki perasaan Islami terlebih menjelang Ramadhan. Namun lagi-lagi akibat pemikiran yang tidak Islami, akhirnya stigma-stigma negatif dan segala macam bentun nyinyiran itulah yang muncul ke permukaan.

Berbeda halnya jika masyarakat sudah memiliki perasaan, pemikiran, dan peraturan yang memang bersandar pada Islam. Tentu tidak akan terjadi hal-hal semacam ini. Akan menjadi sangat parah lagi ketika tiga unsur ini-perasaan, pemikiran dan peraturan, sama-sama tidak berlandaskan pada Islam, yang pada akhirnya membuat seseorang akan merasa asing dengan agamanya sendiri. Semoga kita terhindar dari hal demikian. Wallahu a’lam bisshawab.

*sumber gambar : girlisme.com

Jumat, 20 April 2018

Mengenang 212 dan Sore di Kota Tua

April 20, 2018 0
Mengenang 212 dan Sore di Kota Tua

Rangkaian acara the 16th Journalis Days yang diadakan Badan Otonom Economica FEB UI akhirnya telah selesai. Selama 4 hari penuh kami menjalani jadwal yang padat dan cukup melelahkan. Sebagaimana lazimnya pertemuan yang akan bermuara pada perpisahan, tentu saja ada rasa sedih tatkala harus berpisah dengan teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Meski baru mengenal mereka dalam waktu kurang lebih 4 x 24 jam, namun rasa-rasanya telah terjalin hubungan yang erat.

Suasana sore hari di FEB UI kami habiskan dengan berfoto bersama serta bersenda gurau. Tak lupa juga berpamitan dengan seluruh panitia yang sudah melayani dengan setulus hati. Jarak yang jauh memisahkan kami, mungkin akan benar-benar menjadi penghambat untuk bisa bersua kembali. Namun semoga saja ada saatnya untuk bertemu lagi.

(sampai jumpa lagi kawan-kawan)

Meski acara telah berakhir, aku dan temanku masih belum memesan tiket pesawat untuk pulang. Beberapa hari yang lalu, ketika kami mengenal Ical yang memang satu kamar dengan kami, serta Endang yang merupakan partner Ical, kami telah merencakan untuk pergi ke beberapa objek wisata di Kota Jakarta. Alasannya simpel, kami yang datang jauh-jauh dari Kalimantan dan Makassar ini, rasanya rugi jika tidak berlibur ke Jakarta. Jarak antara Depok dan Jakarta juga tak terlalu jauh. Memang di hari ketiga kami mengikuti training di Jakarta, namun itu bukanlah sebuah liburan. Bermodal nekad, kami pun menyusun rencana.

Ada banyak sekali pilihan tempat wisata yang ingin kami kunjungi. Mulai dari Monas, Ancol, TMII, Masjid Istiqlal, Ragunan, Kota Tua dan lain-lain. Dari beberapa pilihan tersebut terpaksa kami kerucutkan untuk menyesuaikan dengan waktu yang kami punya. Akhirnya disepakati tempat yang akan kami tuju adalah Monas, Masjid Istiqlal, dan Kota Tua.

Pagi Jumat kami segera mengemas barang-barang dari Margonda Residence. Selama di Jakarta, nantinya kami akan menginap di rumah Mas Towik yang merupakan kenalan Endang. Alamatnya ada di Jeruk Purut. Setelah selesai berkemas, kami turun ke bawah untuk menyerahkan kunci dan menunggu Grab datang menjemput.

Perjalanan kami lalui dengan hati yang senang. Selama di mobil, ku lihat hanya aku dan sang sopir yang tetap terjaga. Tiga orang lainnya tertidur ayam. Mungkin karena masih kecapaian. Aku sendiri sengaja tidak tidur karena ingin melihat secara langsung Kota Jakarta. Di beberapa tempat, aku sengaja membuka kaca mobil agar bisa melihat dengan lebih jelas.

Kami akhirnya sampai di rumah mas Towik meski sebelumnya sempat bingung mencari lokasinya. Rumah mas Towik berada tepat di samping pekuburan Jeruk Purut. Meski kuburan, nyatanya tempat itu sangat rapi dan terawat. Rumput-rumput hijau tumbuh subur sehingga lebih mirip seperti taman. Setelah menaruh barang-barang di kamar atas, kami kemudian disuguhkan makan. Karena memang sudah lapar, kami sikat saja semua makanannya. Perjalanan yang cukup panjang nantinya juga menuntut kami untuk punya cadangan tenaga yang lebih.

Tempat utama yang kami datangi adalah Monas. Kami kesana menaiki Grab. Kemacetan tak terhindarkan sehingga kami baru bisa sampai disana sekitar pukul 12.30 atau mendekati waktu solat Jumat. Dengan waktu yang terbatas itu, kami manfaatkan semaksimal mungkin untuk menikmati kawasan Monas yang begitu luas. Di depan kami, tugu Monas berdiri gagah seolah menopang langit.

(Ibul, Fadil, dan Ical) 

Tak terasa waktu solat Jumat semakin dekat. Awalnya kami ingin menunaikan solat Jumat di Masjid Istiqlal. Namun mengingat waktu yang semakin mepet dan jarak ke Istiqlal cukup memakan waktu, akhirnya kami solat Jumat di masjid yang ada di kawasan Lenggang Jakarta yang masih dalam kawasan Monas. Masjid itu tak terlalu besar, mungkin lebih mirip dengan musholla saja. Tapi cukup menampung jamaah untuk solat Jumat. Adapun tema khutbah saat itu membahas tentang riba.

Selesai solat, kami melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Monas dengan berjalan kaki. Tak lupa juga kegiatan berfoto yang wajib dilakukan, terlebih bagi kami yang mungkin akan sangat jarang ke tempat ini. Dari kejauhan, nampak barisan panjang mengular di pelataran Monas. Hal itu jualah yang membuat kami mengurungkan niat untuk naik ke sana. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di taman-taman yang ada. Waktu itu terik matahari benar-benar membakar kulit.

Selain mengagumi keindahan Monas, ada satu hal lain yang bisa aku rasakan. Pikiranku kembali teringat akan sebuah peristiwa besar yang pernah terjadi di kawasan Monas ini. Saat itu, tepat pada tanggal 2 Desember 2017, jutaan orang dari berbagai daerah, latar belakang, hingga aliran, berkumpul di tempat ini. Mereka datang bukan karena mobilisasi oleh pihak tertentu, tapi aku meyakini bahwa kekuatan iman dan seruan hati nurani untuk membela agamalah yang menggerakkan mereka. Aksi bersejarah itu kemudian dikenal dengan Aksi Damai 212. Suatu peristiwa yang masih segar di benak banyak orang

Sekadar merefresh ingatan kita, bahwa Aksi 212 menunjukkan kepada dunia bahwa umat Islam masih punya ghirah atau semangat berislam yang tinggi. Siapa saja yang berani menistakan ajaran Islam, maka tunggulah reaksi dari umat yang membentang dari Sabang sampai Merauke ini. Umat Islam tidak mencari musuh, namun ketika agama dihina ataupun dinista, maka jangan salahkan umat Islam jika berontak.

Setelah puas di Monas, selanjutnya kami menuju masjid Istiqlal. Sebelum itu tak lupa kami membeli oleh-oleh terlebih dahulu. Aku sendiri membeli baju, gantungan kunci, magnet kulkas, dan miniatur monas. Harganya lumayan terjangkau. Oleh-oleh itu nantinya bisa dibagikan di rumah.

Menuju Masjid Istiqlal, kami mencoba menaiki Bis Tingkat Wisata yang disediakan Pemkot DKI secara gratis. Tak perlu menunggu lama, sebuah bis bertingkat singgah di halte yang disediakan. Kami pun masuk ke dalam bis dan mencari posisi duduk di bagian atas.

(ternyata yang gratisan enak juga)

Untuk sampai ke Masjid Istiqlal, bis ini tidak langsung kesana, tetapi melalui beberapa rute lain terlebih dahulu. Sebenarnya jarak dari Monas ke Masjid Istiqlal tidak terlalu jauh, cuma karena ini bis berputar-putar dulu jadi terasa lebih lama sampainya. Tapi hal itu tidak menjadi masalah.

(countdown Asian Games di bundara HI)

Sesampainya di Istiqlal, kami disambut oleh anak-anak yang menjajakan kantong kreseknya. Waktu ashar sudah masuk kala itu. Kami pun mempercepat langkah kaki. Jamaah lainnya juga terus berdatangan. Setelah mengambil wudhu dan menaiki beberapa anak tangga, akhirnya kami benar-benar bisa masuk ke ruang induk masjid.

Rasa kagum dan ketidakpercayaan masih aku rasakan seraya mengangkat takbir bersama ratusan jamaah lainnya. Masjid yang dibangun era Soekarno ini benar-benar luas dan megah. Tihang-tihang utamanya begitu besar. Masjid ini juga terdiri dari beberapa tingkat. Kalau biasanya aku melihat masjid ini ketika siaran solat Jumat berlangsung di TVRI, kini bisa aku rasakan sendiri bagaimana atmosfer yang luar biasa dalam masjid ini.


Lagi-lagi, ingatan akan Aksi Damai 212 itu kembali menyeruak. Masjid ini tentu menjadi saksi bisu akan peristiwa bersejarah tersebut. Masjid ini merupakan salah satu basis dan tempat berkumpul sekaligus beristirahat para jamaah, terutama bagi mereka yang datang dari tempat jauh. Coba aku bayangkan, bagaimana saat itu masjid ini menjadi lautan manusia berpakaian serba putih dengan pekikan takbir yang membara. Meski banyak pula orang-orang di luar sana yang nyinyir dengan mereka, tapi toh semua yang dilakukan semata-mata sebagai wujud tanggung jawab kepada Allah. Mereka hanya ingin menempatkan diri pada barisan yang membela agama. Sayang, aku berada jauh dari masjid ini sehingga hanya sederet doa yang saat itu bisa aku langitkan.

Usai solat, aku tak langsung beranjak. Aku mengarahkan pandangan ke sekelilingku. Saat itu masjid cukup ramai dengan banyaknya para jamaah. Aku dan temanku juga mencoba menyisir beberapa tempat yang kami lalui, termasuk sebuah tempat luas dan lapang. Dari sana terlihat gedung-gedung tinggi yang mengelilinginya. Tak lupa aku mengambil foto sebagai kenang-kenangan saja.


Kami kemudian berkumpul kembali di titik yang tadi kami sepakati. Sebelum menuju Kota Tua, kami mencari makan sebentar di tempat para pedagang. Disana aku memesan sepiring ketoprak. Seusai itu perjalanan kami lanjutkan masih menggunakan Bis Tingkat.

Setibanya di Kota Tua, terlihat lalu lalang manusia yang begitu banyak disana. Suasana sore itu benar-benar ramai hingga ke dalam kawasan Kota Tua. Untuk pertama kalinya, aku bisa secara langsung menyaksikan bangunan-bangunan tua yang sudah ada sejak era kolonial. Di kawasan itu terdapat beberapa museum, kantor, bahkan Indomaret sekalipun.

Kegiatan yang kami lakukan selain mengamati satu per satu bangunan, tentu saja berfoto di tempat-tempat yang bagus. Matahari yang tak lagi terlalu bersinar membuat suasana menjadi teduh. Para penyanyi jalanan hingga orang-orang yang bersepeda membuat sore semakin mengasyikkan.


Hari mulai berganti. Perasaa capek akibat beraktivitas seharian juga telah terasa. Kami pun pulang. Awalnya kami ingin memesan Grab Car. Namun setelah melihat biaya yang cukup tinggi, kami akhirnya memutuskan untuk menggunakan kereta api terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan Grab. Kami menuju Stasiun Kota yang terletak tak jauh dari Kota Tua. Ini adalah pengalaman pertamaku menggunakan kereta api karena di Kalimantan memang masih belum ada.

(capek bro...)

Apa yang kami alami hari ini adalah perjalanan yang tak terlupkan sampai kapanpun. Ada banyak tempat yang kami singgahi dan cerita yang kami temui. Semoga perjalanan ini tak sekadar untuk berlibur, tetapi menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri pada sang pencipta semua ini. Selama perjalanan pulang, momen-momen menyenangkan hari ini kembali melintas dalam benakku. Masya Allah. Mahasuci Allah.

Senin, 16 April 2018

Kompetisi Berujung Silaturahmi

April 16, 2018 0
Kompetisi Berujung Silaturahmi


TANAH JAWA ITU AKHIRNYA…
Setibanya di Bandara Seokarno Hatta Tangerang Banten sekitar menjelang ashar, hanya ribuan syukur yang bisa aku ucapkan. Ada rasa haru, senang, dan bangga yang bergejolak dalam hati. Untuk pertama kalinya, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di tanah Jawa ini, sebuah cita-cita yang dulu pernah aku mimpikan. Sekarang, mimpi itu sudah di depan mataku. Sulit memang untuk dipercaya dan diungkapkan dengan sederet kata.


(sekadar untuk mencoba kamera saja kok)

Tas ransel berwarna campuran hitam & biru serta sebuah koper ukuran sedang, aku tarik perlahan sambil menikmati keindahan salah satu bandara kebanggan Indonesia ini. Tak lupa aku segera memakai almamater  agar memudahkan panitia menjemput. Tak lama, dua orang perempuan datang menghampiri kami. Mereka adalah panitia yang memang bertugas menjemput kami sore ini. Setelah berkenalan singkat, kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil menuju Apartemen Margonda Residence 2 (Mares 2) Depok, tempat kami menginap selama di sana.

Tujuan untuk langsung ke Mares 2 sedikit berubah karena ternyata panitia harus ke FEB UI terlebih dulu untuk mengambil kunci kamar kami. Perjalanan yang cukup jauh kami lalui sambil menikmati keindahan kota, lalu lalang kendaraan, hingga kereta api yang tentunya tak bisa kami temui di Kalimantan. Perasaan capek mulai tergantikan seiring pemandangan baru yang bisa disaksikan.

Memasuki wilayah Universitas Indonesia, aku seolah tak ingin mengedipkan mata. Bagi aku yang memang berasal dari “pedalaman” Kalimantan, wajar jika terpesona dengan universitas yang menjadi langganan sebagai universitas terbaik di Indonesia ini. Selain itu, kampus ini menjadi dambaan banyak orang untuk bisa berkuliah disana. Aku segera meluruskan posisi duduk dan sedikit menempelkan wajah di dekat kaca mobil. Di luar sana, hilir mudik para mahasiswa dengan segala aktivitasnya benar-benar hidup.

Mobil yang kami tumpangi kemudian berhenti di tempat parkir FEB UI. Kami semua turun dari mobil dan menuju selasar. Aku dan satu orang temanku kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sambil mencari musholla di sekitar sini mengingat waktu ashar hampir berakhir. Sebuah kolam besar dengan lambang UI di tengahnya seolah menyambut kami.

(dari yang saya baca, kolam ini dibuat atas bantuan para orang tua mahasiswanya lo)

Setelah menunaikan solat ashar disambung magrib, kami kemudian berangkat lagi menuju apartemen. Kamar kami berada di lantai 20. Tentu saja, ketika sampai di kamar, hal pertama yang aku lakukan adalah membuka tirai dan melihat pemandangan kota Depok dari ketinggian. Hasilnya…Masya Allah.

(Kiri ke kanan: gambar dari ketinggian lantai 20. Apartemen Margonda Residence 2)


KEGIATAN YANG SANGAT PADAT : Hari Pertama
Kegiatan The 16th Journalist Day yang diadakan Badan Otonom Economica (BOE) FEB UI ini diselenggarakan selama 4 hari, dimulai dari Senin sampai Kamis (9 s.d 12 April 2018). Tema yang diangkat kali ini adalah “The Future of Data Driven Journalism”. Diawali dengan perlombaan Paper yang telah dilaksanakan sebelumnya hingga terjaring sebanyak 15 tim (1 tim terdiri dari 2 orang) dan diundang untuk datang ke FEB UI. Meski demikian ternyata hanya ada 14 tim saja karena 1 tim sudah mengundurkan diri.

(ini dia kawan-kawan dari UB. Foto diambil di hari kedua)

Hari pertama di awali dengan acara Seminar. Sesuai dengan arahan, kami berangkat dengan dijemput panitia. Selama menunggu panitia menjemput, kami sempat berkenalan dengan 2 tim dari Universitas Brawijaya yang juga menunggu jemputan. Kami terlibat perbicangan hangat hingga akhirnya panitia datang. Seminar ini dilangsungkan di Auditorium R. Soeria Atmadja FEB UI dan dimulai dari pukul 08.30 WIB. Sesi 1 menghadirkan Abdul Manan, Zen RS, Rahadian P. Paramita dengan moderator Aghnia Adzkia. Untuk sesi 2 menghadirkan Metta Dharmasaputra, Wahyu Dhyatmika, dan Kholikul Alim.




Setelah selesai seminar, dilanjutkan Tehnical Meeting dengan panitia. Semua peserta berkumpul dan menjadi ajang saling berkenalan. Awalnya kami mengira bahwa kami adalah peserta yang paling jauh, nyatanya juga ada peserta lainnya dari Medan dan Makassar. Di forum itu kemudian dijelaskan terkait peraturan dan beberapa perubahan jadwal. Setelah selesai, semua peserta pulang kembali ke penginapan dengan diantar panitia. Jempol gede buat panitianya. Mereka benar-benar melayani, ramah dan cakep semua (wkwkwk).


Hari Kedua : Deg-degan hingga Kedatangan Anak Makassar
Hari kedua ini adalah jadwalnya presentasi dari paper yang sudah kami buat. Jujur, latihan kami tidak terlalu lama. Power Pointnya pun baru kami siapkan beberapa hari yang lalu. Sebelumnya kami mengira bahwa presentasi akan dilaksanakan di hari keempat atau Kamis sehingga ada banyak waktu untuk latihan. Tapi ternyata kami salah. Dengan kekuatan the Power of Kepepet, PPT dan latihan pun kami lakukan dengan tempo yang secepat-cepatnya. Meski begitu, kami tentu tidak mau membuat malu almamater. Kami pun berusaha sebisa dan semaksimal mungkin.
           
Semua tim dibagi ke dalam tiga kelas sesuai subtema masing-masing. Nantinya setiap tim diberi waku 20 menit, dimana 10 menit presentasi dan 10 menit tanya jawab. Disini kami dipertemukan dengan tim dari UB, Unair dan UGM. Aku sendiri merasa deg-degan karena harus bertemu dengan mereka yang berasal dari universitas ternama. Ditambah lagi diakhir sesi akan ada pertanyaan dari satu orang juri yang sudah pakar dibidangnya. Aku berharap agar presentasi ini tidak berakhir seperti sidang skripsi. Mohon…mohon…hidupku masih panjang.
           
Meski kami urutan terakhir, namun waktu seolah tak terasa. Kini giliran kami telah tiba. Dengan mengucap bismillah, kami mulai sesuai dengan kemampuan yang kami punya. Perasaan gugup itu menyeruak di awal penyampaian. Mataku memandang liar ke arah juri, peserta lain, hingga catatan kecil yang aku bawa. Hingga akhirnya, perlahan aku mulai menikmati presentasi ini. Beberapa pertanyaan juri yang dilemparkan berhasil kami jawab. Hasilnya…hanya juri yang tahu.

           (suasana saat presentasi)

Setelah beberapa lama, keempat tim akhirnya selesai presentasi. Kegiatan selanjutnya adalah Focus Discusion Group yang dipandu seorang panitia sebagai moderator. Disini kami berdiskusi tentang tema yang kami angkat yaitu, Jurnalisme Data: Disrupsi Terhadap Lanskap Industri Media?. Semua peserta mengeluarkan pendapatnya dan diskusi berlangsung lancar.
           
Satu hal lagi yang spesial di hari kedua ini. Secara “mengejutkan”, disaat  beristirahat di malam harinya, kami kedatangan teman baru dari Makassar. Mulai malam itulah, lelaki yang kami panggil Ical ini resmi bergabung di kamar H2021 sekaligus menjadi pemanjang cerita kami selama berada di Depok ini.

(Nah ini dia si Ical from Makassar)

Hari Ketiga : Go Jakarta
Hari ketiga ini tampaknya menjadi hari yang cukup menyenangkan sekaligus melelahkan. Sesuai jadwal yang diberikan panitia, kami akan mengikuti Training yang dilaksanakan di Jakarta Creative Hub (CJH). Karena berlokasi di Jakarta, maka kami berangkat lebih pagi dari biasanya. Faktor kemacetan menjadi penyebab utamanya. Meski kami sudah berangkat pagi, nyatanya tak bisa terhindar dari macet dan macet.
           
(gedung-gedung tinggi dari kaca mobil)

Jakarta sudah pasti identik dengan banyaknya gedung-gedung menjulang tinggi. Hal itu memang benar adanya dan bisa aku lihat secara langsung, terutama ketika melintasi daerah Kuningan (kalau gak salah ya). Kiri kanan hanya didominasi gedung pencakar langit yang tingginya melebihi tower BTS. Kami yang berada di bawah terasa sangat kecil.
           
Waktu tempuh dari Mares 2 ke JCH cukup memakan waktu, sekitar satu setengah jam perjalanan. Di luar dugaan, rupanya maag ku kambuh disaat tidak tepat. Perut mulai sakit dan badan ku terasa lemas. Aku mulai panik. Sudah jauh-jauh datang kesini, masa aku harus terbaring sakit. Ya Allah apakah aku akan berakhir disini? (korban sinetron). Tak ingin berlarut-larut dengan penyakit lamaku itu, sisa sarapan yang sengaja aku bawa tadi, ku coba memakannya lagi untuk menetralisir asam lambung. Beruntung, obat maag juga tersedia dalam tasku dan segera aku minum. Perlahan kondisiku mulai baikan.

           (hmmm)

Dikesempatan ini kami belajar tentang analisis dan visualisasi data yang dibawakan oleh tim dari Katadata dan Beritagar. Satu hal yang membuat aku agak “gimanaaa gitu…”, kami ternyata belajar menggunakan excel. Entah kenapa, saat itu juga aku teringat mata kuliah Manajemen Keuangan yang setiap minggu diberi tugas dan dikerjakan menggunakan excel. Hari ini aku menemui hal itu kembali. Untunglah narasumber tidak memberikan tugas tambahan sehingga tidak semakin mengingatkanku akan masa lalu (Lupakan saja yang ini). Menjelang waktu magrib, training pun berakhir. Selesai solat dan berfoto ria, kami segera kembali ke Mares diantar panitia. Hmmm..panitia baik deh.

Malam itu menjadi malam yang sangat melelahkan. Bukan saja karena perjalanan yang cukup jauh, tetapi semua tim diberikan tugas membuat feature investigasi yang berbasis data. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi kami terlebih bagi aku yang belum pernah membuat tulisan dengan genre semacam itu. Topik yang ingin kami diangkat pun masih mengalami kebuntuan.
           
Seperti yang diperkirakan sebelumnya, bahwa tidak mudah menciptakan sebuah tulisan dengan segala macam data dan referensi yang valid. Ditambah lagi dengan rasa capek sehabis beraktivitas seharian dan kantuk yang bersahutan dengan suara pendingin ruangan. Namun saat itulah ada sebuah pemandangan yang tidak biasa, yaitu kami kedatangan dua tim yang juga mengalami nasib sama; dikejar deadline tulisan.
           
Akhirnya malam itu kami lalui bersama-sama. Ada yang mengerjakan di atas kasur, di meja, depan TV, dan di bawah kasur. Namun semua itu bukanlah sebuah perbedaan karena kami adalah bangsa Indonesia yang bersatu. (Skip saja yang ini).
           
Mungkin terasa aneh karena kami sebenarnya berada dalam nuansa kompetisi namun disaat yang sama kami mengerjakan tulisan dengan berbarengan. Padahal tulisan itu juga menjadi bahan penilaian. Namun nyatanya sama sekali tak terasa ada aroma pertempuran. Justru yang ada tercipta rasa kekeluargaan dan saling membantu. Kami mengerjakan tulisan itu terasa bukan lagi untuk kompetisi melainkan seperti hanya untuk dikumpulkan kepada dosen.
           
Yang lebih menakjubkan, kebanyakan dari kami mengerjakan tulisan itu benar-benar menghabiskan waktu satu malam. Aku dan teman satu tim ku menerapkan sistem shift. Jadi ketika aku mengerjakan, maka temanku akan tidur. Begitupun sebaliknya. Hal ini kami lakukan agar bisa beristirahat. Namun beda halnya dengan tim lain yang justru tidak tidur sama sekali. Benar-benar perjuangan yang luar biasa dan tak terlupakan. Sebelumnya bahkan kami sempat berencana “jahat” untuk tidak mengerjakan tulisan tersebut karena keterbatasan waktu dan ide, namun ternyata Allah masih sayang kepada kami.
           
Keesokan paginya, ketika menunggu jemputan di sofa lantai 1 Mares, aku bertanya dengan peserta lainnya terkait proses pengerjaan tulisan mereka. Rata-rata hampir sama; waktu tidur yang relatif sedikit. Tapi tak mengapa, kalau ini bisa membuat panitia bahagia, kami rela dan ikhlas (alay dikit).


Hari Keempat : See You
Senang rasanya kami sudah berada di hari keempat. Itu tandanya acara akan berakhir sebentar lagi. Di hari keempat ini, kami semua dikumpulkan di satu ruangan yang sama kemudian mempresentasikan hasil tulisan yang “simsalabim” jadi dalam satu malam (tanpa bantuan jin lo ya). Kali ini ada dua juri yang akan memberikan pertanyaan pada semua peserta. Tim lain juga diberikan kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan pendapatnya.


Saat itu kami maju diurutan kedua. Dengan persiapan yang seadanya dan mata yang mengantuk, kami memaparkan hasil kerja kami sebisanya. Beruntung waktu itu hanya ada satu juri karena satu juri lainnya masih dalam perjalanan. Beberapa pertanyaan dari juri dan peserta lain bisa kami jawab. Tak jauh berbeda nasib dengan kami, Ical dan temannya justru harus siap maju diurutan pertama. Namun dibalik semua itu, ada taktik brilian yang telah kami siapkan.

(saking luasnya UI, paling tidak kita menggunakan Bis untuk bepergian ke tempat lain)            

Waktu Ishoma telah masuk. Peserta diarahkan panitia untuk mengambil makan siang. Di saat itulah, kami segera pergi. Berdasarkan rencana, kami ingin menjelajah Universitas Indonesia lebih jauh lagi. Kami merasa rugi jika sudah jauh-jauh datang ke sini namun tidak melihat secara langsung keindahan rektorat dan danau UI yang tersohor itu. Jika melihat jadwal, rasanya tidak ada waktu untuk sekadar jalan-jalan. Akhinrya dengan sedikit “diam-diam” kami keluar dari area FEB dan menaiki Bikun atau Bis Kuning yang disediakan secara gratis hingga sampai ke tempat tujuan.
           
Tempat pertama yang kami jajal adalah sebuah toko yang ada di samping masjid UI. Disana kami membeli beberapa gantungan kunci dan souvenir lainnya. Harganya cukup terjangkau dan lumayan bisa dijadikan  oleh-oleh untuk seseorang (canda kok). Setelah itu baru kami ke masjid untuk solat zuhur.

           
Tujuan selanjutnya dan yang paling utama adalah danau UI. Aktivitas yang paling seru dilakukan tentu saja berfoto. Kami mengabadikan momen itu dalam berbagai sudut. Suasana disana tenang dan teduh. Bangunan-bangunan yang mewah dan artistik juga ada disekitarnya sehingga semakin menambah pesona UI. Kami sempat bersantai sejenak sambil menikmati kilauan air danau, gedung rektorat yang aku malas menghitung tingkatannya, serta taman yang indah dan terawat.
           
Setelah puas dengan semuanya, kami kembali lagi ke FEB. Beberapa peserta masih melakukan presentasi di depan juri dan peserta lain. Hingga akhirnya, semua tim telah selesai. Pengumuman pemenang 1, 2, dan 3, serta best speaker pun diumumkan. Sayang sekali kami tidak bisa mendapatkan juara. Namun hal itu tak jadi masalah. Meski tak bisa membawa juara, tapi setidaknya ada banyak cerita yang bisa dibawa pulang dan diceritakan. Sekian.

*untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan serta menjaga privasi, maka tidak semua peristiwa bisa saya ceritakan. Namun semoga tetap bermanfaat.

Selasa, 27 Maret 2018

Majelis Talim Mahasiswa Hadirkan Alumni Rubath Tarim Hadramaut

Maret 27, 2018 0
Majelis Talim Mahasiswa Hadirkan Alumni Rubath Tarim Hadramaut

(24/3/2018). Untuk kesekian kalinya, Lembaga Dakwah Kampus Angkatan Muda Baitul Hikmah Universitas Lambung Mangkurat (LDK AMBH ULM) kembali mengadakan Mejelis Talim Mahasiswa (MTM). Dilangsungkan di Suffah Masjid Kampus Baitul Hikmah dengan mengangkat tema, Ilmu dan Dakwah; Jalan Mulia Menuju Surga. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu kali ini menghadirkan K.H. Mahmudi Syukri yang merupakan alumni Rubath Tarim Hadramaut Yaman dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muttaqin Kota Madya Batu, Jawa Timur.
           
Kegiatan yang di-launching pada 3 Maret 2018 ini terbuka untuk umum dan dimulai dari pukul 13.45 sampai kurang lebih 18.00 WITA. Pada kesempatan ini dihadiri sekitar seratusan mahasiswa, baik ikhwan ataupun akhwat. Tidak hanya dari Universitas Lambung Mangkurat, peserta juga ada yang berasal dari universitas-universitas lain yang ada di Banjarmasin.

Majelis Ta’lim Mahasiswa sendiri setiap pekan menghadirkan dua penceramah sekaligus dalam dua sesi acara. Sesi pertama dimulai dari 13.45 sampai menjelang waktu ashar dan sesi kedua dimulai bada ashar hingga selesai. Namun, dalam edisi kali ini sengaja dihadirkan satu pemateri saja karena merupakan edisi spesial yang menghadirkan penceramah lulusan Rubath Tarim Hadramaut. Tema yang dibawakan berbeda-beda tiap pekannya seperti shiroh nabawiyah, keutamaan menuntut ilmu, sistem pergaulan dalam Islam, nafsiyah islamiyah dan fiqih sholat. Para peserta juga diberikan kesempatan untuk bertanya.

Salah seorang mahasiswa yang berhadir, Muhammad Hafizni mengatakan bahwa ia sengaja datang bersama teman-temannya untuk mendapatkan ilmu agama yang lebih mendalam.

“Kesini memang untuk mendapatkan ilmu agama karena ilmu agama sangat penting untuk kita semua. Sedangkan diperkuliahan sangat sedikit sekali diajarkan,” ucap mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM ini.

Taufik Hidayat selaku Ketua Umum LDK AMBH mengungkapkan bahwa kegiatan ini sengaja diadakan untuk menjawab persolan-persoalan dan kekurangan sebagai PTN umum yang mana mata kuliah Agama Islam hanya diajarkan 3 SKS saja.

“Mata kuliah Agama Islam hanya diajarkan 3 SKS saja dan di awal semester. Sehabis itu tidak ada lagi. Maka dari itu MTM hadir untuk memaksimalkan usaha dakwah kita kepada masyarakat kampus khususnya para mahasiswa dan mahasiswi agar mereka bisa menuntut dan mempelajari Agama Islam di tengah kemajuan zaman.”

Mahasiswa jurusan Sosiologi dan Antropologi ini juga berharap agar para mahasiswa khususnya yang beragama Islam bisa lebih memahami betapa sempurnanya ajaran Islam dan mampu diamalkan secara bersama-sama agar kehidupan selalu berpedoman pada ajaran Islam.

Jumat, 16 Maret 2018

Kids Zaman Apa

Maret 16, 2018 0
Kids Zaman Apa

Beberapa waktu yang lalu, kita kembali dikejutkan, dihebohkan sekaligus dibuat miris oleh seorang murid Sekolah Menengah Pertama di Pontianak yang tega memukul gurunya sendiri dengan kursi. Tak hanya itu, akibat kesal ditegur karena bermain handphone di dalam kelas, ia bahkan melemparkan HP-nya kepada guru yang menegurnya. Alih-alih menuruti gurunya sebagai seorang siswa, anak ini justru melakukan perbuatan yang “biadab”. Sang guru yang mendapat perlakuan kasar tersebut harus menahan luka dibeberapa bagian tubuh dan menjalani perawatan di rumah sakit. Hingga kemudian pihak keluarga dari guru tersebut melaporkan masalah ini ke pihak yang berwajib.

Tak cukup dengan satu kasus pilu, masih ada sederet kasus serupa lainnya. Sebut saja penganiayaan guru SMA di Sampang, Jawa Timur oleh anak muridnya sendiri yang berujung kematian sang guru seni tersebut. Penyebabnya pun terbilang sepele. Hanya karena tak suka ditegur gurunya akibat tidak menuruti perintah, pelaku dengan tega memukul gurunya sampai tersungkur hingga akhirnya meninggal dunia. Kasus ini pun sempat menghebohkan publik sekaligus mengakumulasi banyak tanda tanya; apa yang sesungguhnya terjadi dengan anak-anak saat ini?

Bagi generasi sebelum “Kids Zaman Now”-sebutan untuk anak-anak zaman milenial- taat terhadap guru adalah sebuah kewajiban yang terus dijalankan. Sehebat apapun, sekaya apapun bahkan senakal apapun, seorang siswa tetap menaruh hormat yang tinggi terhadap gurunya. Hukuman-hukuman seperti berdiri di depan kelas, dijewer, dijemur bahkan dipukul dengan penggaris hanya karena kuku panjang dan kotor, adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Bahkan para orang tua zaman dulu sebelum menitipkan anaknya akan menemui para guru dan mengatakan “Pak, Bu, kalau anak saya ini nakal, hukum saja dia”.

Sekarang ini semua terasa berbeda. Sebagian dari siswa di sekolah terlihat seperti orang yang lemah, cengeng, dan mudah marah. Sedikit saja mendapat perlakuan tidak nyaman dari gurunya, maka perbuatan-perbuatan kasar yang akhirnya dipertontonkan. Kejadian pilu itu akhirnya viral di dunia maya, entah apakah itu akan menginspirasi yang lainnya untuk bertindak sama atau tidak. Tak bisa disangkal pula bahwa sebagian orang tua, mirisnya, bahkan ada yang menganiaya gurunya hanya karena anaknya mengadu. Apakah mereka tidak menyadari betapa besar jasa guru kepada anaknya?

Di sekolah, idealnya para siswa tak hanya diajarkan teori-teori keilmuwan, tetapi juga tata cara menjalani kehidupan. Sekolah ibarat menjadi tempat pelatihan dan pembiasaan para siswa untuk menjadi manusia yang sesungguhnya dan membangun kemampuan berfikir yang baik. Namun lagi-lagi, penganiayaan guru oleh muridnya membuat kita mau tak mau berprasangka negatif kepada dunia pendidikan saat ini. Apakah para guru sekarang yang tidak lagi bersahabat dengan siswanya?, apakah pengaruh lingkungan yang buruk? atau bahkan apakah sistem pendidikan kita yang bobrok?.

Ada banyak faktor sebenarnya yang menyebabkan masalah-masalah seperti ini terjadi. Pengaruh teknologi yang semakin canggih membuat sebagian besar anak diantaranya menjadi pecandu game dan internet. Parahnya, pengawasan orang tua terhadap konsumsi media anak akhirnya membuat mereka terjerumus ke jurang yang dalam. Anak-anak yang kecanduan game lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawainya hingga interaksinya dengan orang lain semakin berkurang. Hal itu berdampak pada kurangnya kedekatan dan kepekaan sosial. Belum lagi, hubungan anak dan orang tua juga bisa menjadi renggang, terlebih ketika ayah dan ibunya sibuk bekerja.

Begitupun dengan internet yang selama ini memang menyediakan berbagai macam konten yang dengan mudah dapat diakses kapanpun dan dimanapun. Jika mereka menggunakan internet untuk hal yang baik, maka itu merupakan sesuatu yang positif. Begitupun sebaliknya. Konten-konten negatif seperti tawuran, adegan kekerasan hingga pornografi akan membuat pemikiran anak-anak menjadi kacau.

Tak hanya internet, konten siaran pada televisi juga menjadi “biang kerok” selanjutnya. Ada banyak sekali adegan-adegan berpacaran mesra, gaya hidup menyimpang, mengumbar aurat serta siaran-siaran yang tak mendidik lainnya. Semua itu dipertontonkan dengan mudahnya. Padahal tontonan akan menjadi tuntutan para penikmatnya, apalagi jika dikonsumsi setiap hari bahkan setiap saat. Jadi tidak perlu heran lagi jika ada siswa SD yang sudah berpacaran atau para pelajar yang mengkonsumsi minuman keras dan hamil di luar nikah.

Jika sudah seperti ini, peran orang tua tentulah menjadi nomor satu untuk membangun benteng yang kokoh agar anak tidak mudah terbawa arus kesesatan. Antara anak dan orang tua harus memiliki ikatan yang kuat serta interaksi yang harmonis. Jangan sampai anak merasa jauh dari orang tuanya sehingga ia tak tahu harus berbuat apa jika ada masalah. Hendaknya para orang tua lebih khusus para ibu untuk tidak mementingkan ego dan kepentingan pribadi saja, tapi pandanglah anak sebagai harta yang tak ternilai. Itulah mengapa seorang perempuan dituntut menjadi perempuan yang cerdas karena ia punya tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anaknya.

Selain peran orang tua, negara juga tak boleh lepas tangan dengan situasi ini. Negara memiliki peran vital untuk menyelenggarakan sistem pendidikan yang membangun jiwa manusia, bukan sebaliknya. Jika kita mau menengok pendidikan kita, maka lihatlah apa yang terjadi sekarang. Bukan saja masalah fasilitas sekolah yang minim, tapi bagaimana transfer nilai-nilai kemanusian dan kehidupan yang seolah ingin digerus perlahan-lahan. Pelajaran-pelajaran agama misalnya, justru hanya sebagai pelengkap saja dan seperti ingin dipisahkan. Padahal dari pelajaran seperti itulah, para siswa sedikit banyaknya menerima ilmu yang bisa langsung dipraktekkan dalam interaksi sehari-hari, baik di sekolah, rumah ataupun masyarakat.

Di dalam ajaran Islam, tidak saja diatur mengenai ritual ibadah semata, tetapi juga bermuatan akhlak yang terpuji, sopan santun, hingga hubungan antar manusia beserta cara dan aturannya. Hanya saja, selama ini pelajaran agama (Islam) mendapat porsi kecil dalam pendidikan kita. Ilmu agama seperti dieksklusifkan untuk sekolah-sekolah agama seperti Tsanawiyah dan Aliyah saja. Sejatinya, semua manusia perlu ajaran agama yang murni sehingga dari sana terbentuklah pola fikir dan pola sikap yang baik dan benar.

Perlu diingat pula bahwa kita tidak kemudian menafikkan ilmu-ilmu pengetahuan berbasis duniawi. Hanya saja, dalam konteks sekarang ini telah terjadi ketimpangan yang terlalu jauh antara keduanya sehingga cenderung menghasilkan generasi yang cerdas namun tak punya landasan pengetahuan agama yang kuat. Pelajaran agama tidak cukup hanya diajarkan orang tua atau para ustadz, tetapi harusnya sudah menjadi konsumsi wajib bagi setiap generasi muslim di Indonesia ini melalui penyelenggaraan pendidikan. Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber gambar: tribunstyle.com