Podium.com

Kamis, 24 Mei 2018

“Hug Me”; Ketika Umat Islam Mencari Pengakuan

Mei 24, 2018 2
“Hug Me”; Ketika Umat Islam Mencari Pengakuan

Menjelang memasuki bulan suci Ramadhan, masyarakat Indonesia kembali digoncang ketakutan ketika serangkaian aksi bom bunuh diri dilancarkan para teroris di beberapa gereja dan markas polisi di Surabaya. Rentetan kejadian terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat. Aksi ini pun memakan korban jiwa, baik yang berasal dari pihak kepolisian, masyarakat sipil, dan tentunya teroris itu sendiri.  
                                       
Tak hanya menjadi sorotan utama publik Indonesia, aksi ini bahkan telah menjadi perbincangan dunia, khususnya negara-negara yang punya sejarah kelam dengan terorisme. The Guardian yang merupakan media berpengaruh di Inggris bahkan menuliskan artikel yang berjudul “Surabaya Blast: family of five carried out bomb attack on Indonesia police station”. Selain The Guardian, beberapa media asing lainnya juga menyoroti seperti The Indhependent, BBC, dan The New York Times.

Seperti yang saya duga, ketika aksi bom terjadi di tempat ibadah dan pelakunya memakai pakaian yang sangat identik dengan Islam, maka mulai dari sini muncul serangan pada umat Islam dan ajarannya. Dilihat dari sejarah, hal semacam ini sebenarnya bukanlah pertama kalinya terjadi. Ketika dulu juga sedang marak terjadi pengobaman, baik di luar atau dalam negeri, semua bermuara pada hal yang sama; menyudutkan Islam. Sampai-sampai Islam dikatakan sebagai agama intoleran dan sumber terorisme. Naudzhubillah.

Jika dilihat dari media sosial saja, terbukti bahwa banyak yang kemudian menyangkutpautkan hal ini dengan orang-orang yang dituduh radikal yang ingin mendirikan negara Islam. Tuduhan ini tentunya tidak mendasar dan amat menyesatkan. Ketika mendirikan Daulah Islam di Madinah, Nabi Muhammad tidak pernah menggunakan cara-cara kekerasan apalagi sampai membunuh orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu, jika ada yang mengklaim bahwa aksi itu untuk mendirikan negara Islam, maka itu semua hanyalah kebohongan. Begitupun dengan mereka yang menuduh aksi itu untuk mendirikan negara Islam, adalah sebuah kekeliruan karena bukan begitu metode yang harusnya dilakukan. Dari semua itu yang lebih parah adalah bangkitnya virus Islamophobia yang kembali menjangkiti bangsa ini.

Perempuan bercadar atau orang-orang yang berpakaian Islami menjadi sasaran empuk para pengidap Islamophobia. Saya sudah membaca beberapa kasus yang saya dapat dari berbagai media. Ada wanita bercadar yang diusir dari angkot, menjadi korban salah tangkap karena sering ikut pengajian dan (lagi-lagi) bercadar, hingga yang sempat viral adalah video seorang santri yang diperiksa aparat kepolisian karena membawa tas dan kotak kardus.

Tak lama semenjak itu, masih dari media sosial, saya mengamati ada semacam tren, di mana orang-orang mencoba membuat sebuah ekperimen sosial yang saya sebut “Hug Me”. Aksi ini dilakukan oleh perempuan-perempuan bercadar yang berdiri di tengah keramaian sambil membawa sebuah papan bertuliskan “Jika Anda Merasa Aman, Peluk Saya.” atau tulisan serupa lainnya. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah orang-orang masih takut dengan perempuan bercadar atau tidak. Setahu saya, aksi ini dilakukan pertama kali oleh seorang laki-laki di luar negeri yang waktu itu memang sedang terjadi Islamophobia tingkat akut.

Saya cukup mengapresiasi dengan eksperimen sosial semacam ini. Setidaknya mereka berusaha melawan stigma yang terlanjur disebarkan ke otak masyarakat. Islamophobia memang tidak boleh menyebar karena ia serupa racun tak terlihat yang lambat laun membuat orang yang terkena akan mati dengan mengenaskan.

Akan tetapi ada satu hal yang amat mengiris hati, yakni ketika umat Islam seolah sedang berjuang memperbaiki citranya yang buruk di negara yang mayoritas muslim dan sering kali mengklaim sebagai negara yang beragama dan menjunjung tinggi agama. Sebuah pemandangan yang sungguh ironis dan tak habis fikir. Bagaimana mungkin dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar ini namun masih ada yang memasang stereotip negatif pada ajaran agamanya sendiri, seperti penggunaan cadar dan baju kurung yang itu merupakan bagian dari agama.

Entah akan sampai kapan terus terjadi. Kita tak tahu, apakah ketika misalnya nanti kembali terjadi aksi pengeboman serupa, dan lagi-lagi umat Islam harus berjuang untuk melawan semua tuduhan dan mencari pengakuan bahwa Islam bukan ajaran yang keras apalagi terkait dengan motif terorisme.

Dari fenomena semacam ini setidaknya dapat kita lihat bahwa masyarakat masih memisahkan antara perasaan, pemikiran, dan peraturan hidupnya. Masyarakat mungkin masih merasa bahwa ia berada dalam lingkup yang Islami karena ada banyak masjid ataupun besarnya pemeluk Islam. Akan tetapi kontras dengan pemikirannya yang justru mengarah pada selain Islam, termasuk peraturan hidupnya. Atau bisa jadi sebaliknya. Masyarakat merasa memiliki konsep berfikir Islami namun tidak dengan perasaannya.

Bisa kita amati misalnya para teroris merasa dirinya sangat dekat kepada Allah sehingga rela melakukan aksi bom bunuh diri yang mereka sebut sebagai jihad. Hanya saja mereka salah dalam segi pemikiran yang justru harusnya menjauhi aksi keji semacam itu karena tidak pernah diajarkan nabi. Sama halnya dengan orang-orang yang punya stigma negatif kepada perempuan bercadar. Mereka sebenarnya juga memiliki perasaan Islami terlebih menjelang Ramadhan. Namun lagi-lagi akibat pemikiran yang tidak Islami, akhirnya stigma-stigma negatif dan segala macam bentun nyinyiran itulah yang muncul ke permukaan.

Berbeda halnya jika masyarakat sudah memiliki perasaan, pemikiran, dan peraturan yang memang bersandar pada Islam. Tentu tidak akan terjadi hal-hal semacam ini. Akan menjadi sangat parah lagi ketika tiga unsur ini-perasaan, pemikiran dan peraturan, sama-sama tidak berlandaskan pada Islam, yang pada akhirnya membuat seseorang akan merasa asing dengan agamanya sendiri. Semoga kita terhindar dari hal demikian. Wallahu a’lam bisshawab.

*sumber gambar : girlisme.com

Jumat, 20 April 2018

Mengenang 212 dan Sore di Kota Tua

April 20, 2018 0
Mengenang 212 dan Sore di Kota Tua

Rangkaian acara the 16th Journalis Days yang diadakan Badan Otonom Economica FEB UI akhirnya telah selesai. Selama 4 hari penuh kami menjalani jadwal yang padat dan cukup melelahkan. Sebagaimana lazimnya pertemuan yang akan bermuara pada perpisahan, tentu saja ada rasa sedih tatkala harus berpisah dengan teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Meski baru mengenal mereka dalam waktu kurang lebih 4 x 24 jam, namun rasa-rasanya telah terjalin hubungan yang erat.

Suasana sore hari di FEB UI kami habiskan dengan berfoto bersama serta bersenda gurau. Tak lupa juga berpamitan dengan seluruh panitia yang sudah melayani dengan setulus hati. Jarak yang jauh memisahkan kami, mungkin akan benar-benar menjadi penghambat untuk bisa bersua kembali. Namun semoga saja ada saatnya untuk bertemu lagi.

(sampai jumpa lagi kawan-kawan)

Meski acara telah berakhir, aku dan temanku masih belum memesan tiket pesawat untuk pulang. Beberapa hari yang lalu, ketika kami mengenal Ical yang memang satu kamar dengan kami, serta Endang yang merupakan partner Ical, kami telah merencakan untuk pergi ke beberapa objek wisata di Kota Jakarta. Alasannya simpel, kami yang datang jauh-jauh dari Kalimantan dan Makassar ini, rasanya rugi jika tidak berlibur ke Jakarta. Jarak antara Depok dan Jakarta juga tak terlalu jauh. Memang di hari ketiga kami mengikuti training di Jakarta, namun itu bukanlah sebuah liburan. Bermodal nekad, kami pun menyusun rencana.

Ada banyak sekali pilihan tempat wisata yang ingin kami kunjungi. Mulai dari Monas, Ancol, TMII, Masjid Istiqlal, Ragunan, Kota Tua dan lain-lain. Dari beberapa pilihan tersebut terpaksa kami kerucutkan untuk menyesuaikan dengan waktu yang kami punya. Akhirnya disepakati tempat yang akan kami tuju adalah Monas, Masjid Istiqlal, dan Kota Tua.

Pagi Jumat kami segera mengemas barang-barang dari Margonda Residence. Selama di Jakarta, nantinya kami akan menginap di rumah Mas Towik yang merupakan kenalan Endang. Alamatnya ada di Jeruk Purut. Setelah selesai berkemas, kami turun ke bawah untuk menyerahkan kunci dan menunggu Grab datang menjemput.

Perjalanan kami lalui dengan hati yang senang. Selama di mobil, ku lihat hanya aku dan sang sopir yang tetap terjaga. Tiga orang lainnya tertidur ayam. Mungkin karena masih kecapaian. Aku sendiri sengaja tidak tidur karena ingin melihat secara langsung Kota Jakarta. Di beberapa tempat, aku sengaja membuka kaca mobil agar bisa melihat dengan lebih jelas.

Kami akhirnya sampai di rumah mas Towik meski sebelumnya sempat bingung mencari lokasinya. Rumah mas Towik berada tepat di samping pekuburan Jeruk Purut. Meski kuburan, nyatanya tempat itu sangat rapi dan terawat. Rumput-rumput hijau tumbuh subur sehingga lebih mirip seperti taman. Setelah menaruh barang-barang di kamar atas, kami kemudian disuguhkan makan. Karena memang sudah lapar, kami sikat saja semua makanannya. Perjalanan yang cukup panjang nantinya juga menuntut kami untuk punya cadangan tenaga yang lebih.

Tempat utama yang kami datangi adalah Monas. Kami kesana menaiki Grab. Kemacetan tak terhindarkan sehingga kami baru bisa sampai disana sekitar pukul 12.30 atau mendekati waktu solat Jumat. Dengan waktu yang terbatas itu, kami manfaatkan semaksimal mungkin untuk menikmati kawasan Monas yang begitu luas. Di depan kami, tugu Monas berdiri gagah seolah menopang langit.

(Ibul, Fadil, dan Ical) 

Tak terasa waktu solat Jumat semakin dekat. Awalnya kami ingin menunaikan solat Jumat di Masjid Istiqlal. Namun mengingat waktu yang semakin mepet dan jarak ke Istiqlal cukup memakan waktu, akhirnya kami solat Jumat di masjid yang ada di kawasan Lenggang Jakarta yang masih dalam kawasan Monas. Masjid itu tak terlalu besar, mungkin lebih mirip dengan musholla saja. Tapi cukup menampung jamaah untuk solat Jumat. Adapun tema khutbah saat itu membahas tentang riba.

Selesai solat, kami melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Monas dengan berjalan kaki. Tak lupa juga kegiatan berfoto yang wajib dilakukan, terlebih bagi kami yang mungkin akan sangat jarang ke tempat ini. Dari kejauhan, nampak barisan panjang mengular di pelataran Monas. Hal itu jualah yang membuat kami mengurungkan niat untuk naik ke sana. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di taman-taman yang ada. Waktu itu terik matahari benar-benar membakar kulit.

Selain mengagumi keindahan Monas, ada satu hal lain yang bisa aku rasakan. Pikiranku kembali teringat akan sebuah peristiwa besar yang pernah terjadi di kawasan Monas ini. Saat itu, tepat pada tanggal 2 Desember 2017, jutaan orang dari berbagai daerah, latar belakang, hingga aliran, berkumpul di tempat ini. Mereka datang bukan karena mobilisasi oleh pihak tertentu, tapi aku meyakini bahwa kekuatan iman dan seruan hati nurani untuk membela agamalah yang menggerakkan mereka. Aksi bersejarah itu kemudian dikenal dengan Aksi Damai 212. Suatu peristiwa yang masih segar di benak banyak orang

Sekadar merefresh ingatan kita, bahwa Aksi 212 menunjukkan kepada dunia bahwa umat Islam masih punya ghirah atau semangat berislam yang tinggi. Siapa saja yang berani menistakan ajaran Islam, maka tunggulah reaksi dari umat yang membentang dari Sabang sampai Merauke ini. Umat Islam tidak mencari musuh, namun ketika agama dihina ataupun dinista, maka jangan salahkan umat Islam jika berontak.

Setelah puas di Monas, selanjutnya kami menuju masjid Istiqlal. Sebelum itu tak lupa kami membeli oleh-oleh terlebih dahulu. Aku sendiri membeli baju, gantungan kunci, magnet kulkas, dan miniatur monas. Harganya lumayan terjangkau. Oleh-oleh itu nantinya bisa dibagikan di rumah.

Menuju Masjid Istiqlal, kami mencoba menaiki Bis Tingkat Wisata yang disediakan Pemkot DKI secara gratis. Tak perlu menunggu lama, sebuah bis bertingkat singgah di halte yang disediakan. Kami pun masuk ke dalam bis dan mencari posisi duduk di bagian atas.

(ternyata yang gratisan enak juga)

Untuk sampai ke Masjid Istiqlal, bis ini tidak langsung kesana, tetapi melalui beberapa rute lain terlebih dahulu. Sebenarnya jarak dari Monas ke Masjid Istiqlal tidak terlalu jauh, cuma karena ini bis berputar-putar dulu jadi terasa lebih lama sampainya. Tapi hal itu tidak menjadi masalah.

(countdown Asian Games di bundara HI)

Sesampainya di Istiqlal, kami disambut oleh anak-anak yang menjajakan kantong kreseknya. Waktu ashar sudah masuk kala itu. Kami pun mempercepat langkah kaki. Jamaah lainnya juga terus berdatangan. Setelah mengambil wudhu dan menaiki beberapa anak tangga, akhirnya kami benar-benar bisa masuk ke ruang induk masjid.

Rasa kagum dan ketidakpercayaan masih aku rasakan seraya mengangkat takbir bersama ratusan jamaah lainnya. Masjid yang dibangun era Soekarno ini benar-benar luas dan megah. Tihang-tihang utamanya begitu besar. Masjid ini juga terdiri dari beberapa tingkat. Kalau biasanya aku melihat masjid ini ketika siaran solat Jumat berlangsung di TVRI, kini bisa aku rasakan sendiri bagaimana atmosfer yang luar biasa dalam masjid ini.


Lagi-lagi, ingatan akan Aksi Damai 212 itu kembali menyeruak. Masjid ini tentu menjadi saksi bisu akan peristiwa bersejarah tersebut. Masjid ini merupakan salah satu basis dan tempat berkumpul sekaligus beristirahat para jamaah, terutama bagi mereka yang datang dari tempat jauh. Coba aku bayangkan, bagaimana saat itu masjid ini menjadi lautan manusia berpakaian serba putih dengan pekikan takbir yang membara. Meski banyak pula orang-orang di luar sana yang nyinyir dengan mereka, tapi toh semua yang dilakukan semata-mata sebagai wujud tanggung jawab kepada Allah. Mereka hanya ingin menempatkan diri pada barisan yang membela agama. Sayang, aku berada jauh dari masjid ini sehingga hanya sederet doa yang saat itu bisa aku langitkan.

Usai solat, aku tak langsung beranjak. Aku mengarahkan pandangan ke sekelilingku. Saat itu masjid cukup ramai dengan banyaknya para jamaah. Aku dan temanku juga mencoba menyisir beberapa tempat yang kami lalui, termasuk sebuah tempat luas dan lapang. Dari sana terlihat gedung-gedung tinggi yang mengelilinginya. Tak lupa aku mengambil foto sebagai kenang-kenangan saja.


Kami kemudian berkumpul kembali di titik yang tadi kami sepakati. Sebelum menuju Kota Tua, kami mencari makan sebentar di tempat para pedagang. Disana aku memesan sepiring ketoprak. Seusai itu perjalanan kami lanjutkan masih menggunakan Bis Tingkat.

Setibanya di Kota Tua, terlihat lalu lalang manusia yang begitu banyak disana. Suasana sore itu benar-benar ramai hingga ke dalam kawasan Kota Tua. Untuk pertama kalinya, aku bisa secara langsung menyaksikan bangunan-bangunan tua yang sudah ada sejak era kolonial. Di kawasan itu terdapat beberapa museum, kantor, bahkan Indomaret sekalipun.

Kegiatan yang kami lakukan selain mengamati satu per satu bangunan, tentu saja berfoto di tempat-tempat yang bagus. Matahari yang tak lagi terlalu bersinar membuat suasana menjadi teduh. Para penyanyi jalanan hingga orang-orang yang bersepeda membuat sore semakin mengasyikkan.


Hari mulai berganti. Perasaa capek akibat beraktivitas seharian juga telah terasa. Kami pun pulang. Awalnya kami ingin memesan Grab Car. Namun setelah melihat biaya yang cukup tinggi, kami akhirnya memutuskan untuk menggunakan kereta api terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan Grab. Kami menuju Stasiun Kota yang terletak tak jauh dari Kota Tua. Ini adalah pengalaman pertamaku menggunakan kereta api karena di Kalimantan memang masih belum ada.

(capek bro...)

Apa yang kami alami hari ini adalah perjalanan yang tak terlupkan sampai kapanpun. Ada banyak tempat yang kami singgahi dan cerita yang kami temui. Semoga perjalanan ini tak sekadar untuk berlibur, tetapi menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri pada sang pencipta semua ini. Selama perjalanan pulang, momen-momen menyenangkan hari ini kembali melintas dalam benakku. Masya Allah. Mahasuci Allah.

Senin, 16 April 2018

Kompetisi Berujung Silaturahmi

April 16, 2018 0
Kompetisi Berujung Silaturahmi


TANAH JAWA ITU AKHIRNYA…
Setibanya di Bandara Seokarno Hatta Tangerang Banten sekitar menjelang ashar, hanya ribuan syukur yang bisa aku ucapkan. Ada rasa haru, senang, dan bangga yang bergejolak dalam hati. Untuk pertama kalinya, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di tanah Jawa ini, sebuah cita-cita yang dulu pernah aku mimpikan. Sekarang, mimpi itu sudah di depan mataku. Sulit memang untuk dipercaya dan diungkapkan dengan sederet kata.


(sekadar untuk mencoba kamera saja kok)

Tas ransel berwarna campuran hitam & biru serta sebuah koper ukuran sedang, aku tarik perlahan sambil menikmati keindahan salah satu bandara kebanggan Indonesia ini. Tak lupa aku segera memakai almamater  agar memudahkan panitia menjemput. Tak lama, dua orang perempuan datang menghampiri kami. Mereka adalah panitia yang memang bertugas menjemput kami sore ini. Setelah berkenalan singkat, kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil menuju Apartemen Margonda Residence 2 (Mares 2) Depok, tempat kami menginap selama di sana.

Tujuan untuk langsung ke Mares 2 sedikit berubah karena ternyata panitia harus ke FEB UI terlebih dulu untuk mengambil kunci kamar kami. Perjalanan yang cukup jauh kami lalui sambil menikmati keindahan kota, lalu lalang kendaraan, hingga kereta api yang tentunya tak bisa kami temui di Kalimantan. Perasaan capek mulai tergantikan seiring pemandangan baru yang bisa disaksikan.

Memasuki wilayah Universitas Indonesia, aku seolah tak ingin mengedipkan mata. Bagi aku yang memang berasal dari “pedalaman” Kalimantan, wajar jika terpesona dengan universitas yang menjadi langganan sebagai universitas terbaik di Indonesia ini. Selain itu, kampus ini menjadi dambaan banyak orang untuk bisa berkuliah disana. Aku segera meluruskan posisi duduk dan sedikit menempelkan wajah di dekat kaca mobil. Di luar sana, hilir mudik para mahasiswa dengan segala aktivitasnya benar-benar hidup.

Mobil yang kami tumpangi kemudian berhenti di tempat parkir FEB UI. Kami semua turun dari mobil dan menuju selasar. Aku dan satu orang temanku kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sambil mencari musholla di sekitar sini mengingat waktu ashar hampir berakhir. Sebuah kolam besar dengan lambang UI di tengahnya seolah menyambut kami.

(dari yang saya baca, kolam ini dibuat atas bantuan para orang tua mahasiswanya lo)

Setelah menunaikan solat ashar disambung magrib, kami kemudian berangkat lagi menuju apartemen. Kamar kami berada di lantai 20. Tentu saja, ketika sampai di kamar, hal pertama yang aku lakukan adalah membuka tirai dan melihat pemandangan kota Depok dari ketinggian. Hasilnya…Masya Allah.

(Kiri ke kanan: gambar dari ketinggian lantai 20. Apartemen Margonda Residence 2)


KEGIATAN YANG SANGAT PADAT : Hari Pertama
Kegiatan The 16th Journalist Day yang diadakan Badan Otonom Economica (BOE) FEB UI ini diselenggarakan selama 4 hari, dimulai dari Senin sampai Kamis (9 s.d 12 April 2018). Tema yang diangkat kali ini adalah “The Future of Data Driven Journalism”. Diawali dengan perlombaan Paper yang telah dilaksanakan sebelumnya hingga terjaring sebanyak 15 tim (1 tim terdiri dari 2 orang) dan diundang untuk datang ke FEB UI. Meski demikian ternyata hanya ada 14 tim saja karena 1 tim sudah mengundurkan diri.

(ini dia kawan-kawan dari UB. Foto diambil di hari kedua)

Hari pertama di awali dengan acara Seminar. Sesuai dengan arahan, kami berangkat dengan dijemput panitia. Selama menunggu panitia menjemput, kami sempat berkenalan dengan 2 tim dari Universitas Brawijaya yang juga menunggu jemputan. Kami terlibat perbicangan hangat hingga akhirnya panitia datang. Seminar ini dilangsungkan di Auditorium R. Soeria Atmadja FEB UI dan dimulai dari pukul 08.30 WIB. Sesi 1 menghadirkan Abdul Manan, Zen RS, Rahadian P. Paramita dengan moderator Aghnia Adzkia. Untuk sesi 2 menghadirkan Metta Dharmasaputra, Wahyu Dhyatmika, dan Kholikul Alim.




Setelah selesai seminar, dilanjutkan Tehnical Meeting dengan panitia. Semua peserta berkumpul dan menjadi ajang saling berkenalan. Awalnya kami mengira bahwa kami adalah peserta yang paling jauh, nyatanya juga ada peserta lainnya dari Medan dan Makassar. Di forum itu kemudian dijelaskan terkait peraturan dan beberapa perubahan jadwal. Setelah selesai, semua peserta pulang kembali ke penginapan dengan diantar panitia. Jempol gede buat panitianya. Mereka benar-benar melayani, ramah dan cakep semua (wkwkwk).


Hari Kedua : Deg-degan hingga Kedatangan Anak Makassar
Hari kedua ini adalah jadwalnya presentasi dari paper yang sudah kami buat. Jujur, latihan kami tidak terlalu lama. Power Pointnya pun baru kami siapkan beberapa hari yang lalu. Sebelumnya kami mengira bahwa presentasi akan dilaksanakan di hari keempat atau Kamis sehingga ada banyak waktu untuk latihan. Tapi ternyata kami salah. Dengan kekuatan the Power of Kepepet, PPT dan latihan pun kami lakukan dengan tempo yang secepat-cepatnya. Meski begitu, kami tentu tidak mau membuat malu almamater. Kami pun berusaha sebisa dan semaksimal mungkin.
           
Semua tim dibagi ke dalam tiga kelas sesuai subtema masing-masing. Nantinya setiap tim diberi waku 20 menit, dimana 10 menit presentasi dan 10 menit tanya jawab. Disini kami dipertemukan dengan tim dari UB, Unair dan UGM. Aku sendiri merasa deg-degan karena harus bertemu dengan mereka yang berasal dari universitas ternama. Ditambah lagi diakhir sesi akan ada pertanyaan dari satu orang juri yang sudah pakar dibidangnya. Aku berharap agar presentasi ini tidak berakhir seperti sidang skripsi. Mohon…mohon…hidupku masih panjang.
           
Meski kami urutan terakhir, namun waktu seolah tak terasa. Kini giliran kami telah tiba. Dengan mengucap bismillah, kami mulai sesuai dengan kemampuan yang kami punya. Perasaan gugup itu menyeruak di awal penyampaian. Mataku memandang liar ke arah juri, peserta lain, hingga catatan kecil yang aku bawa. Hingga akhirnya, perlahan aku mulai menikmati presentasi ini. Beberapa pertanyaan juri yang dilemparkan berhasil kami jawab. Hasilnya…hanya juri yang tahu.

           (suasana saat presentasi)

Setelah beberapa lama, keempat tim akhirnya selesai presentasi. Kegiatan selanjutnya adalah Focus Discusion Group yang dipandu seorang panitia sebagai moderator. Disini kami berdiskusi tentang tema yang kami angkat yaitu, Jurnalisme Data: Disrupsi Terhadap Lanskap Industri Media?. Semua peserta mengeluarkan pendapatnya dan diskusi berlangsung lancar.
           
Satu hal lagi yang spesial di hari kedua ini. Secara “mengejutkan”, disaat  beristirahat di malam harinya, kami kedatangan teman baru dari Makassar. Mulai malam itulah, lelaki yang kami panggil Ical ini resmi bergabung di kamar H2021 sekaligus menjadi pemanjang cerita kami selama berada di Depok ini.

(Nah ini dia si Ical from Makassar)

Hari Ketiga : Go Jakarta
Hari ketiga ini tampaknya menjadi hari yang cukup menyenangkan sekaligus melelahkan. Sesuai jadwal yang diberikan panitia, kami akan mengikuti Training yang dilaksanakan di Jakarta Creative Hub (CJH). Karena berlokasi di Jakarta, maka kami berangkat lebih pagi dari biasanya. Faktor kemacetan menjadi penyebab utamanya. Meski kami sudah berangkat pagi, nyatanya tak bisa terhindar dari macet dan macet.
           
(gedung-gedung tinggi dari kaca mobil)

Jakarta sudah pasti identik dengan banyaknya gedung-gedung menjulang tinggi. Hal itu memang benar adanya dan bisa aku lihat secara langsung, terutama ketika melintasi daerah Kuningan (kalau gak salah ya). Kiri kanan hanya didominasi gedung pencakar langit yang tingginya melebihi tower BTS. Kami yang berada di bawah terasa sangat kecil.
           
Waktu tempuh dari Mares 2 ke JCH cukup memakan waktu, sekitar satu setengah jam perjalanan. Di luar dugaan, rupanya maag ku kambuh disaat tidak tepat. Perut mulai sakit dan badan ku terasa lemas. Aku mulai panik. Sudah jauh-jauh datang kesini, masa aku harus terbaring sakit. Ya Allah apakah aku akan berakhir disini? (korban sinetron). Tak ingin berlarut-larut dengan penyakit lamaku itu, sisa sarapan yang sengaja aku bawa tadi, ku coba memakannya lagi untuk menetralisir asam lambung. Beruntung, obat maag juga tersedia dalam tasku dan segera aku minum. Perlahan kondisiku mulai baikan.

           (hmmm)

Dikesempatan ini kami belajar tentang analisis dan visualisasi data yang dibawakan oleh tim dari Katadata dan Beritagar. Satu hal yang membuat aku agak “gimanaaa gitu…”, kami ternyata belajar menggunakan excel. Entah kenapa, saat itu juga aku teringat mata kuliah Manajemen Keuangan yang setiap minggu diberi tugas dan dikerjakan menggunakan excel. Hari ini aku menemui hal itu kembali. Untunglah narasumber tidak memberikan tugas tambahan sehingga tidak semakin mengingatkanku akan masa lalu (Lupakan saja yang ini). Menjelang waktu magrib, training pun berakhir. Selesai solat dan berfoto ria, kami segera kembali ke Mares diantar panitia. Hmmm..panitia baik deh.

Malam itu menjadi malam yang sangat melelahkan. Bukan saja karena perjalanan yang cukup jauh, tetapi semua tim diberikan tugas membuat feature investigasi yang berbasis data. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi kami terlebih bagi aku yang belum pernah membuat tulisan dengan genre semacam itu. Topik yang ingin kami diangkat pun masih mengalami kebuntuan.
           
Seperti yang diperkirakan sebelumnya, bahwa tidak mudah menciptakan sebuah tulisan dengan segala macam data dan referensi yang valid. Ditambah lagi dengan rasa capek sehabis beraktivitas seharian dan kantuk yang bersahutan dengan suara pendingin ruangan. Namun saat itulah ada sebuah pemandangan yang tidak biasa, yaitu kami kedatangan dua tim yang juga mengalami nasib sama; dikejar deadline tulisan.
           
Akhirnya malam itu kami lalui bersama-sama. Ada yang mengerjakan di atas kasur, di meja, depan TV, dan di bawah kasur. Namun semua itu bukanlah sebuah perbedaan karena kami adalah bangsa Indonesia yang bersatu. (Skip saja yang ini).
           
Mungkin terasa aneh karena kami sebenarnya berada dalam nuansa kompetisi namun disaat yang sama kami mengerjakan tulisan dengan berbarengan. Padahal tulisan itu juga menjadi bahan penilaian. Namun nyatanya sama sekali tak terasa ada aroma pertempuran. Justru yang ada tercipta rasa kekeluargaan dan saling membantu. Kami mengerjakan tulisan itu terasa bukan lagi untuk kompetisi melainkan seperti hanya untuk dikumpulkan kepada dosen.
           
Yang lebih menakjubkan, kebanyakan dari kami mengerjakan tulisan itu benar-benar menghabiskan waktu satu malam. Aku dan teman satu tim ku menerapkan sistem shift. Jadi ketika aku mengerjakan, maka temanku akan tidur. Begitupun sebaliknya. Hal ini kami lakukan agar bisa beristirahat. Namun beda halnya dengan tim lain yang justru tidak tidur sama sekali. Benar-benar perjuangan yang luar biasa dan tak terlupakan. Sebelumnya bahkan kami sempat berencana “jahat” untuk tidak mengerjakan tulisan tersebut karena keterbatasan waktu dan ide, namun ternyata Allah masih sayang kepada kami.
           
Keesokan paginya, ketika menunggu jemputan di sofa lantai 1 Mares, aku bertanya dengan peserta lainnya terkait proses pengerjaan tulisan mereka. Rata-rata hampir sama; waktu tidur yang relatif sedikit. Tapi tak mengapa, kalau ini bisa membuat panitia bahagia, kami rela dan ikhlas (alay dikit).


Hari Keempat : See You
Senang rasanya kami sudah berada di hari keempat. Itu tandanya acara akan berakhir sebentar lagi. Di hari keempat ini, kami semua dikumpulkan di satu ruangan yang sama kemudian mempresentasikan hasil tulisan yang “simsalabim” jadi dalam satu malam (tanpa bantuan jin lo ya). Kali ini ada dua juri yang akan memberikan pertanyaan pada semua peserta. Tim lain juga diberikan kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan pendapatnya.


Saat itu kami maju diurutan kedua. Dengan persiapan yang seadanya dan mata yang mengantuk, kami memaparkan hasil kerja kami sebisanya. Beruntung waktu itu hanya ada satu juri karena satu juri lainnya masih dalam perjalanan. Beberapa pertanyaan dari juri dan peserta lain bisa kami jawab. Tak jauh berbeda nasib dengan kami, Ical dan temannya justru harus siap maju diurutan pertama. Namun dibalik semua itu, ada taktik brilian yang telah kami siapkan.

(saking luasnya UI, paling tidak kita menggunakan Bis untuk bepergian ke tempat lain)            

Waktu Ishoma telah masuk. Peserta diarahkan panitia untuk mengambil makan siang. Di saat itulah, kami segera pergi. Berdasarkan rencana, kami ingin menjelajah Universitas Indonesia lebih jauh lagi. Kami merasa rugi jika sudah jauh-jauh datang ke sini namun tidak melihat secara langsung keindahan rektorat dan danau UI yang tersohor itu. Jika melihat jadwal, rasanya tidak ada waktu untuk sekadar jalan-jalan. Akhinrya dengan sedikit “diam-diam” kami keluar dari area FEB dan menaiki Bikun atau Bis Kuning yang disediakan secara gratis hingga sampai ke tempat tujuan.
           
Tempat pertama yang kami jajal adalah sebuah toko yang ada di samping masjid UI. Disana kami membeli beberapa gantungan kunci dan souvenir lainnya. Harganya cukup terjangkau dan lumayan bisa dijadikan  oleh-oleh untuk seseorang (canda kok). Setelah itu baru kami ke masjid untuk solat zuhur.

           
Tujuan selanjutnya dan yang paling utama adalah danau UI. Aktivitas yang paling seru dilakukan tentu saja berfoto. Kami mengabadikan momen itu dalam berbagai sudut. Suasana disana tenang dan teduh. Bangunan-bangunan yang mewah dan artistik juga ada disekitarnya sehingga semakin menambah pesona UI. Kami sempat bersantai sejenak sambil menikmati kilauan air danau, gedung rektorat yang aku malas menghitung tingkatannya, serta taman yang indah dan terawat.
           
Setelah puas dengan semuanya, kami kembali lagi ke FEB. Beberapa peserta masih melakukan presentasi di depan juri dan peserta lain. Hingga akhirnya, semua tim telah selesai. Pengumuman pemenang 1, 2, dan 3, serta best speaker pun diumumkan. Sayang sekali kami tidak bisa mendapatkan juara. Namun hal itu tak jadi masalah. Meski tak bisa membawa juara, tapi setidaknya ada banyak cerita yang bisa dibawa pulang dan diceritakan. Sekian.

*untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan serta menjaga privasi, maka tidak semua peristiwa bisa saya ceritakan. Namun semoga tetap bermanfaat.

Selasa, 27 Maret 2018

Majelis Talim Mahasiswa Hadirkan Alumni Rubath Tarim Hadramaut

Maret 27, 2018 0
Majelis Talim Mahasiswa Hadirkan Alumni Rubath Tarim Hadramaut

(24/3/2018). Untuk kesekian kalinya, Lembaga Dakwah Kampus Angkatan Muda Baitul Hikmah Universitas Lambung Mangkurat (LDK AMBH ULM) kembali mengadakan Mejelis Talim Mahasiswa (MTM). Dilangsungkan di Suffah Masjid Kampus Baitul Hikmah dengan mengangkat tema, Ilmu dan Dakwah; Jalan Mulia Menuju Surga. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu kali ini menghadirkan K.H. Mahmudi Syukri yang merupakan alumni Rubath Tarim Hadramaut Yaman dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muttaqin Kota Madya Batu, Jawa Timur.
           
Kegiatan yang di-launching pada 3 Maret 2018 ini terbuka untuk umum dan dimulai dari pukul 13.45 sampai kurang lebih 18.00 WITA. Pada kesempatan ini dihadiri sekitar seratusan mahasiswa, baik ikhwan ataupun akhwat. Tidak hanya dari Universitas Lambung Mangkurat, peserta juga ada yang berasal dari universitas-universitas lain yang ada di Banjarmasin.

Majelis Ta’lim Mahasiswa sendiri setiap pekan menghadirkan dua penceramah sekaligus dalam dua sesi acara. Sesi pertama dimulai dari 13.45 sampai menjelang waktu ashar dan sesi kedua dimulai bada ashar hingga selesai. Namun, dalam edisi kali ini sengaja dihadirkan satu pemateri saja karena merupakan edisi spesial yang menghadirkan penceramah lulusan Rubath Tarim Hadramaut. Tema yang dibawakan berbeda-beda tiap pekannya seperti shiroh nabawiyah, keutamaan menuntut ilmu, sistem pergaulan dalam Islam, nafsiyah islamiyah dan fiqih sholat. Para peserta juga diberikan kesempatan untuk bertanya.

Salah seorang mahasiswa yang berhadir, Muhammad Hafizni mengatakan bahwa ia sengaja datang bersama teman-temannya untuk mendapatkan ilmu agama yang lebih mendalam.

“Kesini memang untuk mendapatkan ilmu agama karena ilmu agama sangat penting untuk kita semua. Sedangkan diperkuliahan sangat sedikit sekali diajarkan,” ucap mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM ini.

Taufik Hidayat selaku Ketua Umum LDK AMBH mengungkapkan bahwa kegiatan ini sengaja diadakan untuk menjawab persolan-persoalan dan kekurangan sebagai PTN umum yang mana mata kuliah Agama Islam hanya diajarkan 3 SKS saja.

“Mata kuliah Agama Islam hanya diajarkan 3 SKS saja dan di awal semester. Sehabis itu tidak ada lagi. Maka dari itu MTM hadir untuk memaksimalkan usaha dakwah kita kepada masyarakat kampus khususnya para mahasiswa dan mahasiswi agar mereka bisa menuntut dan mempelajari Agama Islam di tengah kemajuan zaman.”

Mahasiswa jurusan Sosiologi dan Antropologi ini juga berharap agar para mahasiswa khususnya yang beragama Islam bisa lebih memahami betapa sempurnanya ajaran Islam dan mampu diamalkan secara bersama-sama agar kehidupan selalu berpedoman pada ajaran Islam.

Jumat, 16 Maret 2018

Kids Zaman Apa

Maret 16, 2018 0
Kids Zaman Apa

Beberapa waktu yang lalu, kita kembali dikejutkan, dihebohkan sekaligus dibuat miris oleh seorang murid Sekolah Menengah Pertama di Pontianak yang tega memukul gurunya sendiri dengan kursi. Tak hanya itu, akibat kesal ditegur karena bermain handphone di dalam kelas, ia bahkan melemparkan HP-nya kepada guru yang menegurnya. Alih-alih menuruti gurunya sebagai seorang siswa, anak ini justru melakukan perbuatan yang “biadab”. Sang guru yang mendapat perlakuan kasar tersebut harus menahan luka dibeberapa bagian tubuh dan menjalani perawatan di rumah sakit. Hingga kemudian pihak keluarga dari guru tersebut melaporkan masalah ini ke pihak yang berwajib.

Tak cukup dengan satu kasus pilu, masih ada sederet kasus serupa lainnya. Sebut saja penganiayaan guru SMA di Sampang, Jawa Timur oleh anak muridnya sendiri yang berujung kematian sang guru seni tersebut. Penyebabnya pun terbilang sepele. Hanya karena tak suka ditegur gurunya akibat tidak menuruti perintah, pelaku dengan tega memukul gurunya sampai tersungkur hingga akhirnya meninggal dunia. Kasus ini pun sempat menghebohkan publik sekaligus mengakumulasi banyak tanda tanya; apa yang sesungguhnya terjadi dengan anak-anak saat ini?

Bagi generasi sebelum “Kids Zaman Now”-sebutan untuk anak-anak zaman milenial- taat terhadap guru adalah sebuah kewajiban yang terus dijalankan. Sehebat apapun, sekaya apapun bahkan senakal apapun, seorang siswa tetap menaruh hormat yang tinggi terhadap gurunya. Hukuman-hukuman seperti berdiri di depan kelas, dijewer, dijemur bahkan dipukul dengan penggaris hanya karena kuku panjang dan kotor, adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Bahkan para orang tua zaman dulu sebelum menitipkan anaknya akan menemui para guru dan mengatakan “Pak, Bu, kalau anak saya ini nakal, hukum saja dia”.

Sekarang ini semua terasa berbeda. Sebagian dari siswa di sekolah terlihat seperti orang yang lemah, cengeng, dan mudah marah. Sedikit saja mendapat perlakuan tidak nyaman dari gurunya, maka perbuatan-perbuatan kasar yang akhirnya dipertontonkan. Kejadian pilu itu akhirnya viral di dunia maya, entah apakah itu akan menginspirasi yang lainnya untuk bertindak sama atau tidak. Tak bisa disangkal pula bahwa sebagian orang tua, mirisnya, bahkan ada yang menganiaya gurunya hanya karena anaknya mengadu. Apakah mereka tidak menyadari betapa besar jasa guru kepada anaknya?

Di sekolah, idealnya para siswa tak hanya diajarkan teori-teori keilmuwan, tetapi juga tata cara menjalani kehidupan. Sekolah ibarat menjadi tempat pelatihan dan pembiasaan para siswa untuk menjadi manusia yang sesungguhnya dan membangun kemampuan berfikir yang baik. Namun lagi-lagi, penganiayaan guru oleh muridnya membuat kita mau tak mau berprasangka negatif kepada dunia pendidikan saat ini. Apakah para guru sekarang yang tidak lagi bersahabat dengan siswanya?, apakah pengaruh lingkungan yang buruk? atau bahkan apakah sistem pendidikan kita yang bobrok?.

Ada banyak faktor sebenarnya yang menyebabkan masalah-masalah seperti ini terjadi. Pengaruh teknologi yang semakin canggih membuat sebagian besar anak diantaranya menjadi pecandu game dan internet. Parahnya, pengawasan orang tua terhadap konsumsi media anak akhirnya membuat mereka terjerumus ke jurang yang dalam. Anak-anak yang kecanduan game lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawainya hingga interaksinya dengan orang lain semakin berkurang. Hal itu berdampak pada kurangnya kedekatan dan kepekaan sosial. Belum lagi, hubungan anak dan orang tua juga bisa menjadi renggang, terlebih ketika ayah dan ibunya sibuk bekerja.

Begitupun dengan internet yang selama ini memang menyediakan berbagai macam konten yang dengan mudah dapat diakses kapanpun dan dimanapun. Jika mereka menggunakan internet untuk hal yang baik, maka itu merupakan sesuatu yang positif. Begitupun sebaliknya. Konten-konten negatif seperti tawuran, adegan kekerasan hingga pornografi akan membuat pemikiran anak-anak menjadi kacau.

Tak hanya internet, konten siaran pada televisi juga menjadi “biang kerok” selanjutnya. Ada banyak sekali adegan-adegan berpacaran mesra, gaya hidup menyimpang, mengumbar aurat serta siaran-siaran yang tak mendidik lainnya. Semua itu dipertontonkan dengan mudahnya. Padahal tontonan akan menjadi tuntutan para penikmatnya, apalagi jika dikonsumsi setiap hari bahkan setiap saat. Jadi tidak perlu heran lagi jika ada siswa SD yang sudah berpacaran atau para pelajar yang mengkonsumsi minuman keras dan hamil di luar nikah.

Jika sudah seperti ini, peran orang tua tentulah menjadi nomor satu untuk membangun benteng yang kokoh agar anak tidak mudah terbawa arus kesesatan. Antara anak dan orang tua harus memiliki ikatan yang kuat serta interaksi yang harmonis. Jangan sampai anak merasa jauh dari orang tuanya sehingga ia tak tahu harus berbuat apa jika ada masalah. Hendaknya para orang tua lebih khusus para ibu untuk tidak mementingkan ego dan kepentingan pribadi saja, tapi pandanglah anak sebagai harta yang tak ternilai. Itulah mengapa seorang perempuan dituntut menjadi perempuan yang cerdas karena ia punya tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anaknya.

Selain peran orang tua, negara juga tak boleh lepas tangan dengan situasi ini. Negara memiliki peran vital untuk menyelenggarakan sistem pendidikan yang membangun jiwa manusia, bukan sebaliknya. Jika kita mau menengok pendidikan kita, maka lihatlah apa yang terjadi sekarang. Bukan saja masalah fasilitas sekolah yang minim, tapi bagaimana transfer nilai-nilai kemanusian dan kehidupan yang seolah ingin digerus perlahan-lahan. Pelajaran-pelajaran agama misalnya, justru hanya sebagai pelengkap saja dan seperti ingin dipisahkan. Padahal dari pelajaran seperti itulah, para siswa sedikit banyaknya menerima ilmu yang bisa langsung dipraktekkan dalam interaksi sehari-hari, baik di sekolah, rumah ataupun masyarakat.

Di dalam ajaran Islam, tidak saja diatur mengenai ritual ibadah semata, tetapi juga bermuatan akhlak yang terpuji, sopan santun, hingga hubungan antar manusia beserta cara dan aturannya. Hanya saja, selama ini pelajaran agama (Islam) mendapat porsi kecil dalam pendidikan kita. Ilmu agama seperti dieksklusifkan untuk sekolah-sekolah agama seperti Tsanawiyah dan Aliyah saja. Sejatinya, semua manusia perlu ajaran agama yang murni sehingga dari sana terbentuklah pola fikir dan pola sikap yang baik dan benar.

Perlu diingat pula bahwa kita tidak kemudian menafikkan ilmu-ilmu pengetahuan berbasis duniawi. Hanya saja, dalam konteks sekarang ini telah terjadi ketimpangan yang terlalu jauh antara keduanya sehingga cenderung menghasilkan generasi yang cerdas namun tak punya landasan pengetahuan agama yang kuat. Pelajaran agama tidak cukup hanya diajarkan orang tua atau para ustadz, tetapi harusnya sudah menjadi konsumsi wajib bagi setiap generasi muslim di Indonesia ini melalui penyelenggaraan pendidikan. Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber gambar: tribunstyle.com

Sabtu, 10 Februari 2018

Gagal Logika Memahami Pesan Zadit Taqwa

Februari 10, 2018 6
Gagal Logika Memahami Pesan Zadit Taqwa
Masih segar diingatan kita tentang seorang mahasiswa pemberani sekaligus aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa dari Universitas Indonesia, Zadit Taqwa yang sempat membuat masyarakat Indonesia tercengang. Bagaimana tidak, ia tanpa ragu meniup pluit dan mengacungkan kartu kuning besar langsung di hadapan Presiden Jokowi yang kala itu baru menyelesaikan sambutannya dalam perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia yang ke-68. Meski pada akhirnya, ia “dipukul” mundur oleh Paspampres.

Sontak saja aksi di luar dugaan itu seketika menyita perhatian publik. Sebagaimana lazimmnya sebuah aksi, maka akan diikuti reaksi setelahnya. Berbagai macam reaksi, entah itu pro maupun kontra bermunculan bahkan saling berbalasan. Cuitan atau nyinyiran meramaikan dunia nyata dan dunia maya. Bahkan tagar Kartu Kuning Jokowi sempat menjadi trending topic di media sosial Twitter. Ini membuktikan bahwa apa yang dilakukan Ketua BEM UI tersebut bukan perkara receh.

Hanya saja, semakin kesini semakin penulis merasa bahwa ada penggiringan opini yang mendiskreditkan nama besar pergerakan mahasiswa. Banyak pernyataan, umpatan bahkan cacian yang ditujukan kepada mahasiswa khususnya mereka yang bergerak dalam mengkritisi kebijakan penguasa. Hal ini bisa dilihat dari perbincangan di media sosial yang ujung-ujungnya ingin mengatakan bahwa mahasiswa hanya bisa bicara tanpa berbuat, tak punya etika, suka mengkritik namun tak punya solusi, merasa paling benar dan sebagainya.

Banyak orang yang kontra terhadap apa yang dilakukan Zadit Taqwa karena ia dianggap melanggar etika, tak punya sopan santun di hadapan kepala negara, mencoreng almamaternya sendiri, bahkan hanya sekadar mencari sensasi. Saya sendiri memahami mengapa mereka berpendapat demikian. Disini memang telah terjadi “pertempuran” antara mereka yang bergolongan apatis, pragmatis, sekuleris, budak penguasa, dengan mereka yang kritis dan peduli pada nasib bangsa. Kesalahan terbesar mereka adalah ketidakmampuan memahami pesan-pesan yang ingin disampaikan seorang Zadit Taqwa.

Penulis disini memandang apa yang dilakukan Zadit sebagai sesuatu yang positif dan sah-sah saja untuk dilakukan. Setidaknya ada tiga hal yang bisa penulis baca dari aksi ini. Pertama, Zadit membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia tak akan pernah diam pada persoalan bangsanya. Sejak meletusnya “perang” reformasi 1998, mahasiswa semakin yakin bahwa predikat “Agent of Change” tidak sekadar teori di buku-buku sosiologi, namun benar-benar terjadi. Aksi kartu kuning itu menjadi salah satu gebrakan yang berhasil dilakukan untuk membuktikan bahwa Mahasiswa akan selalu ada untuk Indonesia.

Dalam setiap pergerakannya, mahasiswa akan selalu dihadapkan oleh mereka yang kontra terhadap apa yang dilakukan. Jauh sebelum adanya aksi ini, mahasiswa sekarang sering dicap sebagai mahasiswa yang sudah kehilangan idealisme dan jati diri, mengutamakan materi, dimabuk asmara, sibuk dengan IPK, dan sebagainya. Namun aksi Zadit sekali lagi menjadi sirine yang mampu membantah tuduhan-tuduhan semacam itu. Meski pada akhirnya masih saja ada orang yang “kebakaran jenggot” dengan membawa tuduhan-tuduhan seperti yang telah disampaikan pada paragrap empat sebelumnya.

Kedua, Zadit ingin mengingatkan dan membuka mata masyarakat bahwa Indonesia sekarang ini TIDAK sedang baik-baik saja. Berbagai macam permasalahn terjadi bak fenomena gunung es. Tiga tuntutan Zadit dkk, seperti gizi buruk di Asmat, Plt Gubernur dari Polri dan draft Ormawa hanyalah beberapa masalah yang sekarang ini sedang terjadi. Di luar itu, masih banyak masalah lain yang tak kalah urgen, sebut saja LGBT, perzinahan, kriminalisasi ulama, UU Ormas yang berpotensi menjadi senjata “pembunuh”, hingga hilangnya moral para pelajar. Aksi Zadit saya kira bisa menyadarkan masyarakat tentang keadaan bangsa kita sekarang.

Ketiga, aksi tersebut dilakukan di momen yang tepat yaitu memasuki tahun politik. Kartu kuning yang menjadi simbol peringatan tidak saja ditujukan pada presiden, namun juga mereka yang memiliki kuasa di daerah-daerah agar benar-benar bekerja untuk rakyat. Jangan hanya melakukan pembangunan besar-besaran tatkala masa jabatan sudah hampir habis agar seolah-olah telah berhasil melakukan pembangunan. Ataupun bagi mereka yang ingin maju Pilkada yang sengaja melakukan safari ke pesantren-pesantren, ulama, tokoh masyarakat, ataupun blusukan agar mendapat simpati dari masyarakat.

Adapun kontraversi lainnya yang selama ini menjadi senjata untuk menyerang Zadit dan pasukan, saya kira juga perlu dijelaskan. Bukan ingin membela Zadit mati-matian, namun dua hal ini memang perlu diluruskan agar tidak salah dalam memposisikan diri dan memandang suatu masalah. Paling tidak, apa yang saya sampaikan bisa menjadi bahan pertimbangan dalam bertindak.

Serangan pertama dan utama oleh kelompok kontra adalah aksi Zadit telah melanggar etika sebagai seorang mahasiswa. Masalah etika ini memang menjadi titik sentral perdebatan. Sekadar untuk diketahui kembali bahwa etika menurut KBBI adalah pengetahuan mengenai baik serta buruknya tingkah laku, hak serta keharusan moral; sekumpulan asa atau nila-nilai yang terkait dengan akhlak; nilai tentang benar atau salahnya perbuatan atau tingkah laku yang dianut masyarakat. Menurut Drs. O. P. Simorangkir, etika adalah pandangan manusia terhadap baik dan buruknya tingkah laku manusia. Ada satu keyword utama dari pengertian etika, yaitu baik dan buruk sebuah perilaku. Karena sudah tau pengertiannya, kira-kira apakah yang dilakukan Zadit dengan niat mengkritisi kebijakan pemerintah termasuk pelanggaran etika? Silakan dijawab sendiri saja.

Kalau kita mau menengok sejarah pada pergerakan mahasiswa reformasi 1998, akan kita temui banyak sekali pelanggaran etika yang dilakukan. Menurunkan secara paksa penguasa, melawan polisi dan tentara, menerobos pagar hingga menaiki dan menduduki gedung DPR-MPR. Jika berpatokan dengan yang sekarang, maka mahasiswa dulu juga telah melakukan pelanggaran etika. Namun nanti dulu. Justru dengan hal-hal semacam itulah, reformasi dapat terjadi. Bangsa Indonesia akhirnya terbebas dari keotoriteran penguasa, pembungkaman dan pengekangan menuju keterbukaan seperti sekarang ini. Andai saja mahasiswa dulu menjadikan etika sebagai raja, mungkin tak akan seperti ini keadaan bangsa kita (baca: tak ada reformasi).

Ketika saluran-saluran penyampaian aspirasi sudah tertutup dan kalaupun ada namun saluran itu tak pernah membuahkan hasil, maka mau tak mau harus dilakukan cara penyampaian secara lebih “ekstrem”. Kalau kita cermati lagi, apa yang dilakukan Zadit sebenarnya bukanlah pelanggaran etika berat. Hanya perbedaan persepsi saja. Beda halnya jika Zadit misalnya bertelanjang di depan presiden, atau berteriak dan berucap kasar kepada presiden secara langsung, maka jelas masuk kategori pelanggaran. Tapi nyatanya tak seperti itu. Justru yang dilakukan Zadit adalah cara yang halus, elegan, kreatif dan tepat sasaran.

Kalau mau kita bandingkan dengan demo misalnya, maka pemberian kartu kuning tentu lebih halus dan mampu memberikan efek psikologi yang mendalam. Buktinya aksi itu menjadi perbincangan yang terus mengalir. Orang-orang kemudian semakin menyoroti kasus gizi buruk dan campak di Asmat. Bantuan-bantuan semakin banyak datang. Media semakin menyoroti kasus luar biasa tersebut. Inilah sebenarnya subtansi dari aksi tersebut. Jangan malah sibuk memikirkan etika padahal belum tentu kita juga mampu menjaga etika. Saya prihatin dengan banyaknya warganet yang mencaci dan menghujat Zadit karena ia melanggar etika padahal tanpa sadar mereka sendiri juga melanggar etika dalam berujar. Jika memberi kartu kuning melanggar etika, lalu bagaimana dengan penguasa yang melupakan janji kampanyenya?

Pada intinya adalah bahwa etika harus sesuai dengan konteks yang ada. Tak bisa disamaratakan. Apalagi ini hanya berkaitan dengan cara mengingatkan dan mengoreksi pemerintah yang memang harus dilakukan. Yang perlu diingat dan menjadi konsen kita bersama adalah sebab musabab dari yang dilakukan Zadit. Tak akan pernah ada asap jika tak ada api.

Kedua adalah tudingan yang mengatakan bahwa Zadit tak tau fakta, hanya bisa melakukan aksi konyol dan tak bisa berbuat apa-apa selain mengkritik pemerintah. Disinilah letak terjadinya distorsi berfikir bagi sebagian orang. Perlu saya tegaskan bahwa harus dibedakan antara kedudukan dan fungsi sebuah jabatan. Seorang presiden dengan mahasiswa ibarat langit dan bumi. Tidak bisa disamakan dari segi fungsi dan kewenangan. Wajar jika Zadit memberikan kritik kepada pemerintah karena salah satu peran mahasiswa adalah menjadi kontrol pemerintah.

Presiden memiliki dua tugas yang dibedakan menjadi tugas sebagai kepala negara dan sebagai kepala pemerintahan. Tugas Presiden sebagai Kepala Negara tercantum dalam peraturan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD ’45), diantaranya: Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara (Pasal 34 Ayat 1); Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan (Pasal 34 Ayat 2); Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak (Pasal 34 Ayat 3).

Sedangkan tugas presiden sebagai kepala pemerintahan diantaranya: Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar (Pasal 4 ayat 1); Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya (Pasal 5 ayat 2); Presiden mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi undang-undang (Pasal 20 Ayat 4); Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah (Pasal 28I Ayat 4); Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya (Pasal 31 Ayat 2); Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang (Pasal 31 Ayat 3)

Itulah gambaran beberapa tugas seorang presiden. Sehingga yang terjadi seperti KLB Asmat, Plt Gubernur dan sebagainya, sudah merupakan tanggung jawab presiden sebagai kepala negara dan pemerintahan dibantu oleh para menteri dan lembaga-lembaga lainnya. Sedangkan mahasiswa tidak memiliki wewenang semisal menyusun RAPBN untuk pembangunan, membuat undang-undang, mengambil keputusan dan sebagainya. Jadi wajar saja jika mahasiswa termasuk Zadit memberikan kritik kepada pemerintah selaku pemegang mandat dari rakyat.

Selain itu, jika kita memahami tugas-tugas tersebut, maka akan terdengar janggal ketika presiden mengatakan ingin mengirim Zadit dkk ke Asmat agar bisa melihat langsung keadaan disana. Pernyataan ini kemudian menimbulkan dua tafsir. Yang pertama seolah-olah menandakan bahwa pemerintah sudah tak mampu lagi berbuat apa-apa sehingga mengharap bantuan mahasiswa. Memang sudah menjadi tugas mahasiswa untuk membantu masyarakat sebagaimana tertuang dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Hanya saja, pernyataan presiden tersebut kurang enak didengar. Kalaupun mau melibatkan mahasiswa, harusnya berupa kalimat persuasif yang baik, bukan malah seperti kalimat “tantangan”.

Kedua, pemerintah terkesan anti kritik. Menyuruh Zadit dkk ke Asmat seperti ditujukan agar mereka diam dan menerima keadaan disana sehingga tak lagi mengkritik pemerintah. Semua orang juga sudah tahu bahwa Papua pada umumnya memiliki medan yang berat karena didominasi pegunungan dan hutan. Namun apakah harus menyerah pada keadaan?. Hal ini tentunya tidak bisa dianggap remeh karena berkaitan dengan nyawa orang banyak.

Selama ini kita tahu bahwa pemerintah di bawah komando Pak Jokowi sangat getol membangun Papua. Dibeberapa kesempatan, presiden sering menyampaikan capaian-capaiannya dalam membangun Papua. Kerja keras itu memang harus diapresiasi. Akan tetapi kasus luar biasa di Asmat semakin menyadarkan kita bahwa pemerintah tidak boleh merasa hebat dan cukup hanya dengan pencapaian itu saja. Pemerintah harus terus membangun Papua hingga bisa setara dengan daerah lainnya. Disinilah aksi Zadit berusaha mengingatkan itu semua. Apa salahnya? Bukankah kartu kuning sendiri hanyalah simbol dari sebuah peringatan, bukan bermaksud “mengusir pemain dari lapangan?” Inilah yang kemudian disebut sebagai kegagalan logika dalam memahami pesan Zadit Taqwa.

Itulah beberapa pandangan saya terhadap aksi Zadit Taqwa yang saya anggap sebagai sesuatu yang baik. Jangan sampai hujatan, cacian hingga nyinyiran yang dialamatkan kepada Ketua BEM UI ini bukannya menjadikan mahasiswa lainnya menjadi kritis namun malah apatis dan pragmatis. Apabila itu terjadi, maka nasib bangsa akan semakin tak menentu. Saya pribadi yakin, bahwa suara mahasiswa tak akan pernah mati. Tanah ini sudah banyak dialiri oleh darah para pemuda. Hidup Mahasiswa!!!

Wallahu a’lam bisshawab

sumber gambar : Tribunnews.com